Warna Langit

Juni Safitri

Cincin

on June 27, 2012

Argo taksi menunjukkan angka tiga puluh ribu delapan ratus rupiah. Aku mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru dengan empat angka nol dibelakang angka lima. Bapak separuh baya yang duduk dibelakang kemudi itu lalu memberikan dua puluh ribu rupiah kepadaku, sambil tersenyum dan berkata.

“Terima kasih, non”

Ah! apakah aku harus membalas senyuman bapak yang mengenakan seragam biru itu.

“Ini kebanyakan pak, di bulatkan jadi 31ribu saja, saya tidak punya seribuan”

“Tidak apa-apa non”

Tapi ternyata, aku memang agak keras kepala. “Ya sudah, kembali lima belas ribu saja pak.”

“Lho, kebanyakan.” dia tetap bersikeras juga.

“Bapak rugi nanti..” kata ku, sambil membolak balik dompet hitam tebalku, berharap menemukan uang seribu rupiah.

“Saya anggap amal” dia menyodorkan uang dua puluh ribuan itu. “Saya ikhlas non” lanjutnya…

Ahh ya sudahlah.. Jarang sekali kutemui sopir taksi yang membulatkan angka yang muncul di argo itu kebawah, malahan yang ada hampir semua sopir taksi selalu membulatkan angka-angka itu keatas.

Mobil sedan berwarna biru itu ngeloyor pergi, segera setelah ku tutup pintu jok penumpangnya.

Aku memasuki rumah. Sepi. Pada kemana semua? batinku. Aku naik ke lantai2, dimana kamarku berada, merogoh tas ku untuk mengambil kunci kamar dan membuka pintu kamar ku. Bunyi berdecit khas muncul ketika aku membuka daun pintuku. Ku nyalakan lampu, meletakkan tas ku begitu saja diatas meja yang berantakan, dan pergi ke kamar mandi.

30menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk besar berwarna pink dan rambut yang basah. Ku rogoh lagi tasku, mengaduk-aduknya sebentar, mencari HP ku. Masih dengan handuk pink besar membalut tubuhku dan rambut yang basah, aku duduk di pinggiran tempat tidur, membuka inbox di handphone yang sedang kupegang, menghapus semua pesan yang ada didalamnya. Aku menyebrangi ruangan berukuran tiga kali empat meter persegi ini, membuka lemari pakaian, memilih kaos oblong ukuran super besar berwarna merah dan celana pendek favoritku, lalu kembali ke tempat tidur.

Waktu menunjukkan 10.47  malam..

Aku ingin segera tidur, jadi ku matikan saja cahaya yang menerangi kamar kecil berantakanku ini. Kegelapan membuatku relax, tidak tahu kenapa. Ku rebahkan tubuh lelahku, berharap segera tertidur begitu menyentuh bantal dan kasur yang empuk, namun pikiranku malah melayang pada keseluruhan hari yang telah kulalui.

“Eh, Eh, seratus ribu itu cepek kan ya?” celetuk Sari, salah satu teman kantorku. “Kalo dua ratus ribu apa’an istilahnya?” lanjutnya.

“Nopek cinn” timpal Nia. Teman kantorku yang lainnya.

Aku tertawa saja mendengar mereka memproduksi istilah-istilah gaul untuk menyebutkan jumlah uang tertentu. Topik tentang uang ini muncul karena cerita tentang biaya translete ijazahku pada seorang sworn translator keluar begitu saja dari mulutku. Aku memang sedang mengurus dokumen-dokumen persiapan beasiswa ku bulan ini, dan tidak sedikit biaya yang kukeluarkan untuk mendapatkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Awal bulan hanya tinggal satu minggu, namun digit angka yang ada didalam rekening ku sudah menipis.

“Ntar malem dines gak cinn?” tanya ku pada Nia. Aku, tentu saja hanya bercanda untuk mengganti topik pembicaraan, tapi ternyata tanggapannya luar biasa juga.

“Lagi dapet cinn, gak bisa, haha..” Jawabnya santai.

Sari langsung saja tertawa keras sekali, suara tawanya membahana diseluruh ruangan. “Kalian berdua memang sudah gila! haha..” ucapnya sambil mengusap matanya yang agak berair karena tertawa terlalu keras.

Aku ikut tertawa juga melihatnya menanggapi pembicaraan ku dengan Nia seserius itu.

“Hey gadis nopek, ntar malem dines gak?” Tanya Sari padaku.

Ah! Julukan nopek itu jadi milikku ternyata. Pikirku. “Lagi kosong nih.. tapi apa aku sms aja ya. Siapa tau ntar bisa, haha… nambah-nambah duit, ya gak sih? hahaha”  Timpalku.

“Sms aja siapa tau dari gadis nopek menjadi gadis gopek” Ucapnya sekenaya. “perlu berapa lagi seh buat ngurusin dokumen ke Aussie?”

“Kurang ajar! Eh tapi aku memang lagi perlu tiga ratus ribu, hahaha…” Sambil berbicara ku ambil HP ku yang bersembunyi didalam tas. “Eh, eh, tapi duit yang waktu itu masih ada sisanya sodara-sodara.” lanjutku.

“Kenapa sih mesti takut makek tu duit cinn?” kata Nia tiba-tiba. “Itu kan anggep aja sangu dari dia karena kamu udah nemenin dia makan, toh kamu gak ngapa-ngapain ini”

“hahaha….” aku cuma tertawa. Baiklah aku sms saja dia, pikirku.

“Udah lah santai aja.” Lanjut Nia.

“Sip.” Jawab ku singkat. Dan tentu saja, aku memang menggerakkan jemariku dengan cepat untuk mengetik kalimat singkat Hello, how are you? dan mengirmkan pesan itu kepada orang yang sedang kami bicarakan. “Kenapa kita jadi ngomongin ini sih?”

“Soalnya kamu itu lucu Jun, kamis malam jumat tiba-tiba nongol didepan rumah, pakai rok hitam, kemeja coklat, bawa roti Bread Talk, ditanyain darimana.. eh, malah nangis” Sahut Sari dengan semangat. “Dasar aneh!”

“Eh! Gak ada hubungannya kali dengan topik pembicaraan kita tentang duit nopek itu.” Jawab ku bersungut-sungut.

“hahahaha…. ya disambungin aja. Toh kamu pakai duit dia kan buat beli roti Bread Talk itu.”

“hehe..” kekehku singkat. “Ya beginilah tingkah anehku dikala galau, kalau kisanak kan pasti party toh?” tanyaku pada Nia.

Party is my middle name cinn…” Jawab Nia sambil membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang. Akupun mengikuti nya, membereskan alat tulis ku satu persatu, mengambil jaketku di loker dan bersiap untuk pulang juga. Sari yang memang sudah bersiap pulang sejak tadi masih duduk di kursi dekat meja kerjaku, santai.

“Tuh, sms tuh…” Kata Sari mengagetkanku.

Wah, tumben balas nya cepat. Pikirku dalam hati. Kuraih ponselku diatas meja kerja, membuka inbox nya dan ku baca Hi honey,i’m fine thanks. want to meet you again tonight.”

“Senyam-senyum tuh, dines ya malam ini?” again, kata-kata Sari mengagetkanku.

Enjoy your Saturday night Jun.” Sahut Nia, dia berdiri, sudah siap untuk melangkah mendekati pintu keluar. “Pulang yuk guys, capek nih.”

“Iya nih, pulang yuk. Eh kalian udah punya rencana mau pergi kemana liburan minggu depan ini?” Ocehku sambil mengiringi mereka menuju pintu keluar, tapi jari-jariku tetap sibuk mengetik pesan.

“Aku mau ke batu kayaknya.” Jawab Nia.

“Mengunjungi pantai di madura bareng bebz.” Jawab Sari. “Kalo kamu, mau kemana gadis nopek? Ha ha….”

“Belum ada rencana kemana-mana.” Kataku datar. Aku memang tidak punya rencana apapun untuk menghabiskan liburanku minggu depan. Hampir semua orang dikantor sangat bersemangat merencanakan liburan mereka, menyenangkan sekali melihatnya. Kadang aku Cuma ikut nimbrung aja, ikut ngobrol dan mendengar rencana-rencana mereka. Tapi tetap saja, didalam hatiku aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan seseorang yang akan pergi meninggalkan negara ini dalam waktu dekat.

“Oke kawan, happy weekend ya..” Kata Nia sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauh ke arah tempat parkir motornya.

Aku sedang berada didalam taksi dan sedang terjebak kemacetan lalu lintas kota Surabaya yang menyandang status sebagai kota kedua terbesar di Indonesia. Hari sabtu bagi kebanyakan orang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu dalam satu minggu, tapi bagiku hari sabtu berarti versi diriku yang melow dan kesepian akan muncul. Aku lebih senang bekerja, bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi. Aku hanya benci sendirian.

I’m here already, dear. Ku baca pesan singkat yang baru saja kuterima beberapa detik yang lalu.

Aku membalas pesan itu dengan cepat dan kembali memandang keluar jendela mobil, ah! Sseperti apa rasanya bisa menghabiskan weekend dengan teman, keluarga, atau orang yang berarti dalam hidup kita. Pikiranku melayang jauh entah kemana melihat orang-orang bersama kekasih mereka, keluarga mereka, teman-teman dekat mereka.

Aku memasuki sebuah restoran di jalan Dr. Soetomo yang terkenal dengan steak sebagai menu andalannya. Aku langsung menuju sebuah meja di pojok ruangan. Disana, telah duduk seorang lelaki paruh baya, berusia 37tahun, mengenakan kemeja ungu bercorak garis-garis putih dan celana kain hitam. Dandanan nya begitu rapi. Dalam radius 1meter sebelum aku mencapai meja itu, aku sudah bisa mencium bau parfumnya. Hm.. bau parfum ini sama persis dengan bau parfum seseorang yang kukenal.

Dia tersenyum, aku membalas senyumannya dengan sopan. Dia mempersilahkan aku duduk, dan meyodorkan daftar menu restoran itu. Kami makan dan mengobrol tentang pekerjaan ku dan pekerjaannya. Berbicara padanya, seperti berbicara kepada seorang ayah, dia banyak memberikanku nasehat dan petuah-petuah. Dia juga berbagi cerita tentang hidupnya di Perth, Australia. Dan aku pun bertanya banyak hal tentang Australia, karena aku berencana pindah kesana.

Kami sedang berada didalam mobilnya yang dingin dan nyaman menuju sebuah tempat di Surabaya bagian barat setelah kami mengabiskan waktu satu jam direstoran itu. Dia menggenggam tangan ku sesaat dan mengatakan, “I’m so happy today.”

Aku membalas tatapan lembut matanya yang singkat dan mengatakan, “Me too.”

Aku tidak tahu harus bagaimana mendefinisikan apa yang aku rasakan saat aku menghabiskan waktu bersamanya. Yang pasti perasaan itu bukan perasaan bahagia, bukan juga perasaan senang, dan juga bukan perasaan nyaman.

Ini adalah pertemuan kedua ku dengannya, dan aku sedang berpikir.  Apa yang sedang aku lakukan?.

Dalam perjalanan pulang, aku sedang memandang hampa keluar jendela taksi yang sedang kutumpangi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ku buka tas ku, kurogoh kantong yang ada pada bagian dalam tasku, ku cari-cari gulungan kertas yang ku masukkan begitu saja beberapa jam yang lalu. Begitu kutemukan, pelan-pelan ku buka gulungannya, dan kutemukan  lima lembar uang seratus ribuan. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan memasukkan kembali gulungan uang itu.

Kuingat kembali bagaimana lelaki itu memperlakukan aku dengan sangat sopan dan halus, begitu menghormatiku dan menyanjungku sebagai wanita. Namun, ahh! Di jari manis tangan kirinya melingkar manis sebuah cincin.

. . .

 

 

 

Advertisements

6 responses to “Cincin

  1. satiti says:

    like this like this like this, June…lanjutannya gimana?

  2. rasel says:

    hey…safitri…you write your blog…this is in your language thats why could not understand…but i hope it fantastic…

  3. ur brother ... says:

    Speechless ade …. andaikan bs jagain lebih lama jadi km ga perlu ngalamin banyak pengalaman buruk …bingung mo kasi suka ato engga…
    just want to say sorry for everything …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: