Warna Langit

Juni Safitri

-Funeral- Cincin yang terkubur didalam bumi

on July 8, 2012

Pagi ini saya terbangun sekitar jam7 pagi. Hari Minggu identik dengan hari santai. Orang-orang tidak pergi bekerja dihari minggu. Saya pun juga begitu. Hari ini saya tidak mempunyai rencana apapun untuk mengisi hari Minggu saya. Saya ingin pergi ke gereja dan kembali mencari inspirasi tentang keyakinan saya akan Tuhan, namun ternyata saya terlalu malas untuk membawa badan saya meninggalkan tempat tidur.

Saya ingin membuat secangkir kopi panas, dan mendapati bu Seh sedang membersihkan lantai dapur, dia begitu telaten membersihkan semuanya. Saya sangat menghargai pekerjaannya. Dia tersenyum ramah setiap hari, dan menyapa saya,

“Baru bangun mbak?”

“he he .. iya bu Seh” kekeh saya singkat sambil berjalan mencapai rak piring dan gelas.

Wadon kudu ne tangi subuh tho mbak…” respon bu Seh. Dalam bahasa Jawa wadon berarti anak perempuan, dia mengatakan bahwa sebagai anak perempuan seharusnya saya bangun pada dini hari.

“he he.. tadi malam ndak bisa tidur bu.” Saya kembali terkekeh sambil mencari-cari gunting, untuk membuka kopi instan saya.

Oalah Wadon jaman saiki tangine awan. Baju-baju mbak belum tak setrika, nanti sore saja ya saya antar ke kamar.” Kata bu Seh dengan suara lembut.

“he he.. iya bu Seh, terima kasih ya. Saya ke kamar dulu.” Saya kembali berjalan serampangan kembali kekamar dengan rambut acak-acakan dan mata masih berat.

Beberapa jam saya lalui tanpa melakukan apapun, bahkan saya tidak berniat untuk mandi. Saya hanya duduk dan berhadapan dengan laptop saya, membuka email saya, membuka account jejaring sosial saya, membuka dan membaca blog orang-orang yang saya ikuti di WordPress, iseng mencari definisi tentang cincin di Kamus Besar Bahasa Indonesia di internet. Entah kenapa saya tertarik sekali dengan fungsi cincin sebagai simbol komitmen selain sebagai perhiasan yang dipakai wanita.

http://kamusbahasaindonesia.org/cincin, saya menemukan definisi dari cincin, [n] (1) perhiasan berupa lingkaran kecil yg dipakai di jari, ada yg berpermata, ada yg tidak; (2) segala sesuatu yg berbentuk lingkaran (spt gelang-gelang kecil pd tombak atau mata rantai)

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/cincin#ixzz201Z0sDLJ

Sebuah pesan masuk ke Handphone saya, saya meraih HP dan dengan malas-malasan membuka pesan singkat yang ternyata dari ibu saya. Dia mengabarkan bahwa saudara perempuan saya tidak lulus ujian masuk Universitas Malang. Entah apa yang saya pikirkan ketika saya membaca pesan dari ibu saya, namun saya tiba-tiba langsung beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri, dan bergegas pulang untuk bertemu dengan saudara perempuan saya.

“Bu Seh, kunci garasi nya mana ya?” tanya saya kepada bu Seh ketika saya sudah siap untuk mengeluarkan motor saya dari kamarnya.

“Lho, biasanya di atas mesin cuci tho mbak..” Jawabnya.

“Ndak ada ini..”

“Coba dilihat saja garasinya, mungkin ndak dikunci..” Saran bu Seh. Dan saya berjalan menuju garasi.

Ahh!! Mobil siapa lagi ni di parkir sembarangan saja di dalam pagar. Menyebalkan sekali. Pikir saya dalam hati ketika melewati halaman depan rumah yang ternyata penuh dengan 2mobil berjajar hampir memblokir jalan keluar. Benar saja, ternyata garasi memang tidak dikunci. Ada seorang lelaki paruh baya sedang membersihkan barang-barang tak berguna didalam nya. Saya berusaha sopan dan menyapa lelaki paruh baya itu.

“Selamat pagi pak.”

Dia tersenyum cukup ramah dan mempersilahkan saya mengeluarkan motor saya. “Pagi mbak, mau pulang ya?”

“Iya.”

“Saya disuruh bersih-bersih garasi dan halaman mbak. Apa mbak punya barang rongsokan yang mau dibuang? Biar sekalian saya buangkan.” Kata bapak itu.

“Hmm.. ndak ada pak. Permisi dulu ya” saya menuntun motor saya keluar dari garasi.

“Hati-hati mbak, biar saya yang kunci garasi nya nanti.” Ucap bapak itu sebelum saya menjalankan motor saya dan menghilang dari pandangan bapak separuh baya itu.

“Terima kasih pak.” Lalu saya menyalakan mesin dan pergi bahkan tanpa menutup pintu pagar.

Saya menyempatkan diri berhenti sejenak di Mc. D di Sidoarjo dan membeli beberapa paket makanan kesukaan saudara perempuan saya. Saya tahu pasti bagaimana perasaan tidak lulus ujian. Saya berharap saudara perempuan saya agak sedikit terhibur dengan kedatangan saya dan makanan kesukaannya. Kabar dia tidak lulus ujian mengingatkan saya akan perasaan saya ketika saya tidak lulus ujian dan tidak mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Ohio- Amerika pada tahun 2007. Saya begitu sedih, kecewa, dan merasa tidak percaya diri lagi untuk belajar. Saudara perempuan saya hanyalah gadis yang berusia 18tahun, dan ini adalah ujian pertamanya untuk memasuki dunia Universitas, tapi dia gagal. Itu membuat saya bersedih hati juga.

Saya memperhatikan nya melahap habis makanan yang saya bawa, dia kelihatan baik-baik saja. Dia bahkan tidak lupa meminta jatah bulanan nya, dan meminta saya membelikannya ice cream.

“Mbak tukokno es krim ya, magnum almond.” Minta nya setelah menghabiskan double cheese burger dan kentang goreng.

“sip.”  Dan dia tersenyum girang.

“Sek, maringene. Mari entek kentang goreng iki.” Lanjut nya sambil tetap mengunyah kentang goreng dimulutnya.

“Lho saiki tha?” tanya ku heran, kenapa dia belum kenyang setelah menghabiskan 1burger dan kentang goreng. Tapi ya sudahlah, saya akan menuruti apapun yang dia minta hari ini.

“Yo iyolah. Mumpung mbak dirumah.” Jawabnya.

Kami sedang berbelanja makanan ringan, coklat, dan ice cream di supermarket dekat rumah kami pada saat ibu saya menelepon saya dan meminta kami segera pulang. Belum sempat kami menikmati belanjaan kami, orang tua saya meminta saya dan saudara perempuan saya pergi ke rumah sakit bersama dengan mereka.

Bibi saya baru saja meninggal dunia.

Bibi saya, adalah istri dari paman saya yang sekaligus patner bisnis bapak saya. Berita kematiannya begitu mendadak dan mengejutkan, karena saya tak pernah tau bahwa bibi saya mengalami komplikasi tekanan darah tinggi dan asam urat. Bibi saya berusia 48tahun, dan dipanggil oleh Tuhan lebih awal dari orang-orang disekitar saya.

Ruangan itu membawa aura kesedihan berat yang dapat saya hirup dari luar. Ketika saya memasuki ruangan itu, mata saya menangkap sosok sepupu saya yang setahun lebih tua dari saya, menangis di pojok ruangan, sambil menggendong anak nya yang belum bisa berjalan. Bapak saya, paman saya, ibu saya, dan suami sepupu saya sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya penting dibagian ruangan yang lain.

Saya berjalan perlahan menghampiri tempat tidur dimana bibi saya sedang tertidur. Saya duduk di ujung tempat tidur itu, alat bantu pernafasan, jarum-jarum infus telah dilepas dari tubuh nya. Dia tidak membutuhkan alat-alat bantuan pernafasan lagi, dia tertidur selamanya. Dia kelihatan cantik. Dia tidak lagi merasa kesakitan atas penyakit yang dideritanya.

Keluarga kami memutuskan untuk mengadakan upacara pemakaman untuk bibi saya secepatnya. Mobil jenazah rumah sakit berteriak meraung-raung dijalanan, dan berlari dengan kecepatan tinggi menuju area pemakaman di  kota kecil saya.

Sore ini, ketika saya memandang langit, langit begitu mendung dan kelabu. Mungkinkah langit juga brsedih atas kepergian bibi saya.

Upacara pemakaman bibi saya berlangsung dengan cepat. Hal terakhir yang saya ingat adalah, sebelum bibi saya dibungkus dengan kain kafan putih dan kembali kedalam bumi. Saya melihat cincin pernikahannya dengan paman saya masih melingkar dijari manis nya. Cincin itu, sebagai lambang komitmen janji suci pernikahan nya dengan paman saya juga ikut terkubur didalam bumi.

Sebelum matahari tidak menampakkan sinarnya lagi, kami semua telah kembali kerumah bibi saya, semua orang sedang berbincang-bincang tentang bibi saya. Saya menghampiri putri kecil saudara sepupu saya yang sedang tertidur pulas dikamarnya, dan mengecup keningnya. Dia telah kehilangan neneknya bahkan sebelum dia bisa menunjukkan langkah pertamanya menginjak bumi.

Semoga bibi saya beristirahat dengan tenang disisi Tuhan.

5.33 P.M –Ruang keluarga, kediaman bibi saya –

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: