Warna Langit

Juni Safitri

Pukul 7 Pagi

Dia mengenakan celana pendek berwarna pink, dan singlet hitam. Santai, dia duduk bersandar di sana berjam-jam dengan buku setebal 440 halaman dihadapannya. Wajahnya berminyak, rambutnya di gelung asal-asalan ke atas oleh karet rambut yang berwarna senada dengan celana pendek rumahannya.  Jemari tangannya sesekali bergerak kebawah kursi, mengambil gelas berisi kopi susu yang sudah dingin kiranya, menyeruput perlahan bagaikan isi gelas itu masih mengepul uapnya, dan kembali mengedarkan kedua bola matanya pada sebuah buku.

Seharian ini tidak ada alasan bagi nya untuk beranjak dari sebuah kursi plastik reot berlengan yang berada di depan kamar kos nya di lantai 3. Langit mulai berubah warna dari cerah terang benderang menjadi kian anggun berwarna jingga. Gadis itu tetap tekun melahap setiap kata yang ada di dalam buku yang dia bawa, mencoba berimajinasi seakan-akan apa yang ia baca muncul, hidup dan terjadi di depan nya. Musik-musik klasik mengalun lembut di telinganya lewat earphone yang sejak awal dia duduk disana sudah terpasang, dia mendengarkan playlist berjudul “jenius” yang ia buat sendiri di Hp tua nya, dentingan piano mengalun mendayu-dayu di telinganya membuatnya semakin betah berlama-lama bersemedi di kursi plastik reot itu.

Matanya mulai menyipit karena cahaya yang menerangi pandangan matanya terhadap sebuah buku tebal berwarna hijau sudah mulai meredup, dan dia bangkit dari kursi plastik reot di teras kamarnya. Tersadar bahwa hari sudah berganti status menjadi gelap di luar sana. Secepat kilat dia mengedarkan pandangan disekitar nya, dan mengambil gelas yang telah kosong dibawah kursi itu. Dia meletakkan buku yang sedang dia baca diatas tempat tidur kecilnya yang nyaman, berencana untuk melanjutkan kembali ekspedisi menyelami dunia di dalam buku itu nanti sebelum dia tidur.

Air dingin yang menyentuh kulitnya terasa begitu segar, dia merasa otak di dalam tempurung kepalanya pun ikut rileks, merasakan dinginnya air yang mengalir dari pancuran air tua didalam  kamar mandi dengan keseluruhan temboknya berlapis porselen putih itu. Dengan balutan handuk berukuran super besar berwarna merah, ia keluar dari kamar mandi. Rambut masih basah, namun dia tak peduli dengan buliran air yang tercecer dilantai membentuk jejak di belakangnya. Secepat mungkin ia kembali mengenakan pakaian bersih dan bergegas merebahkan diri diatas tempat tidur, meraih buku yang sejak tadi menyita perhatiannya, dan mulai membaca. Kembali memasuki dunia yang tercipta lewat rangkaian kata-kata.

. . .

Tas ransel hitam besar teronggok begitu saja di sudut ruangan. Tas itu masih gemuk, pertanda isi perutnya masih berada di dalam, beberapa pasang kaos dan celana jeans kotor. Dia tak perlu repot-repot mengeluarkan isinya dan memindahkan ke dalam keranjang pakaian kotor yang terletak tepat disebelah pintu, para pembantunya dengan sigap akan membereskan semua kekacauan yang ia buat didalam kamar besar itu. Tanpa mengeluarkan perintah apapun, dia sudah pasti hanya akan ongkang-ongkang kaki saja menikmati waktu istirahatnya setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 4jam didalam kereta api. Liburan ke jogja selama sepekan cukup menguras isi dompet belel belang-belangnya. Selama satu minggu kedepan dia memutuskan untuk sedikit mengencangkan ikat pinggang,  dia menimbang-nimbang kira-kira anggaran apa yang bisa ia kurangi, dan dengan berat hati  keputusan jatuh pada mengurangi pengeluaran beberapa rupiah untuk pembelian botol-botol bir.

Rambut ikal berwarna gelap sebahu nya belum  kering, kaos putih tipis bergambar The Beatles dan celana pendek santai menempel pada tubuh jangkung nan  kurus itu. Dia duduk diatas kursi rotan dengan alas kursi tipis pula berwarna coklat di dalam kamarnya sendiri, membuka laptop. Dia membuka website yang menyajikan rangkaian laporan lengkap musim pertandingan sepak bola, sibuk membaca artikel-artikel kecil di dalamnya, mengecek skor tim-tim yang sudah bertanding, dan mengikuti komentar-komentar dari pecinta olahraga itu di seluruh dunia. Setelah puas melucuti isi website tentang sepak bola tersebut, dia beranjak dari kursi rotannya, berjalan dengan langkah-langkah besar menghampiri tempat tidur berukuran sedang dengan balutan bed cover berwarna coklat tua. Dia menyalakan lampu tidur dengan sinar temaram di atas meja kecil di samping tempat tidur, menghempaskan badan lelahnya, lalu menutupi nya dengan selimut tipis yang lembut sampai ke leher.

Laki-laki yang kini berusia kepala tiga itu mulai merasakan berat pada kelopak matanya, sayup-sayup ia mulai memejamkan mata cekungnya. Namun tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. . .

. . .

Konflik yang terjadi didalam buku itu menyedotnya semakin dalam memasuki dunia imajinasi. Malam semakin larut, namun buku tebal itu belum juga habis dilahapnya. Tinggal sedikit lagi maka rasa penasarannya akan terpuaskan. Dia menguap, berkali-kali, mata nya kini semakin ingin menutup, lelah. Sebelum akhirnya dia menyerah kalah dengan keinginan matanya untuk beristirahat, dia mengambil  HP nya yang berada tepat di sebelah kepalanya, mengeset alarm pukul 7pagi.

. . .

Laki-laki itu menguap lebar lalu meraih HP yang berada di atas meja kecil disamping tempat tidur dimana sebuah lampu tidur kecil dengan sinar temaram menerangi kamarnya, memencet tombol-tombol di HP itu, dan meletakkan nya kembali. Ia membenahi selimut tipis yang membuatnya merasa berada didalam kepompong, memastikan tidak ada seekor nyamuk pun yang dapat memasuki pertahanannya dan menghisap darahnya ketika ia tidur. Lalu mulai tertidur. Esok hari ia akan terbangun oleh alarm HP yang telah ia set pukul 7pagi.

. . .

#berlanjut gak ya ni cerita?? Hehehe ;p . . .

(ahh!! harus bersambung!! >_<)

 

 

 

Leave a comment »

Pagi ini. . . aku bebas sesaat

“Traktaktaktak Duarrr… Duaaarrrr….traktaktak ” (hi hi, mencoba menggambarkan gimana bunyi mercon lewat kata-kata) terlihat semburat berbagai macam warna bermunculan di langit yang gelap malam ini disertai dengan suara kenceng ledakan mercon dari kejauhan. halah! kenapa aku gunakan istilah mercon untuk menyebutkan kembang api, he he.. ndeso banget rasanya.. ahh! tapi bodo amat!. Aku dan saudara perempuan ku sedang konsentrasi pada makanan kami masing-masing, sekotak nasi dan ayam crispy lengkap dengan saos sambal dan saos tomat. Kami saling berpandang-pandangan penuh arti sedetik setelah membuka isi kotak makanan itu. Radar persaudaraan kami sepertinya sedang terhubung dan kami diam-diam sedang bertelepati membicarakan isi makanan kotakan itu.Jika di realisasikan dalam kata-kata yang dapat dimengerti orang awam kira-kira mungkin seperti ini pembicaraan kami.

Ayam nya gede ya Sa..pasti kekenyangan ntar pulang nih” Kata ku memulai pembicaraan penuh arti itu, tentu saja saudara perempuanku yang terlahir sejenis dengan ku mengangguk penuh pemahaman bahwa kakak nya ini sedang menggunakan majas hiperbola untuk mengekspresikan apa yang ada didalam kotak itu. “Ntar pulang mampir beli kebab ya?” Aku meneruskan.

Sip mbak, ini mah cuma selilit ye..” Kata nya sambil menggerakkan manik matanya dari sepotong ayam didalam kotak ke wajahku berganti-gantian.

Aku pun mengangguk-anggukkan kepala ku dengan mantap. dan berakhir sudahlah percakapan singkat kami melalui telepati. singkat, jelas, dan padat. he he..

Kami sedang menghadiri tasyakuran rumah baru saudara sepupu kami, sekalian syukuran, sekalian buka puasa bersama,sekalian beramal dengan anak-anak yatim dari panti asuhan. Keluarga kami hm.. aku baru tahu belakangan ini, ternyata menjadi donatur tetap pada sebuah panti asuhan yang terletak disebuah desa kecil bernama rembang di kota kecil kami, Bangil. Banyak hal yang di sumbangkan, bukan cuma uang, tapi juga buku-buku, dan baju-baju bekas, bahkan alat-alat tulis dan sejenisnya.

Mereka datang sore ini dengan menggunakan mobil bak terbuka. Aku tidak tahu pasti berapa jumlah anak-anak yang di undang,tapi sebelum mereka pulang kembali ke panti asuhan, terlihat mereka berdesak-desakan di atas mobil bak terbuka itu berseru lantang menyebutkan gema takbiran sambil memasang wajah berseri-seri karena setiap anak, dari yang terkecil hingga yang sudah mulai beranjak ABG, telah mendapatkan bingkisan hadiah. Happy Ied Mubarak. Ucapku dalam hati ketika mereka sudah tak terlihat lagi.

Saudara perempuanku,Rosa, sedang terkikik-kikik seru menceritakan tempat kos baru nya di Malang, dan mendaulatku untuk datang ke kota itu, jalan-jalan, dan menghabiskan waktu dengan nya di akhir minggu. Kami sedang mengantri untuk membeli kebab, dan segera cabut begitu kebab sudah sampai ditangan, ingin segera sampai dirumah dan melahap habis makanan itu selagi masih hangat. Berada dirumah dimana aku tumbuh tentu terasa hangat dan menyenangkan, namun satuhal yang tak pernah ku dapatkan dirumah ini adalah kebebasan. Semuanya di atur oleh mami. seharian dia mengingatkan untuk sholat, mandi, meletakkan pakaian kotor yang kubawa, pakai sandal kalau didalam rumah, sandal crocs baru ku ga boleh di letakkan sembarangan saja di luar, kunci motor harus ada ditempatnya, jangan pakai kaos ketat, dan banyak lagi..

Bagiku, mami memang cerewet minta ampun, tapi mungkin suatu hari aku juga akan jadi seperti itu. mengatur ini itu. Aku nurut-nurut saja atas semua aturan mami ku selama aku disini, aku lakukan semuanya tanpa membantah. Tapi, ketika aku sudah berada diluar rumah ini, diluar kekuasaan nya, aku berusaha keras menemukan hal yang entahlah, kucari-cari, tapi tidak tahu juga apa yang kucari. Keyakinan ku akan Tuhan, agama, prinsip hidup, cinta, teman, sahabat, cara menjadi orang yang menurut orang lain baik, menjadi diriku sendiri.

Aku jadi ingat hal-hal geje yang kulakukan pagi ini sebelum meninggalkan Surabaya.

Aku terbangun pagi sekali, pagi buta,bahkan matahari masih belum bangun, oleh suara alarm hape ku yang sengaja ku set jam 4 dini hari. Antara sadar dan tak sadar, mata masih sepet sepertinya seseorang telah dengan sengaja ngelem mata ini pake lem tikus, aku memutuskan tidur lagi 10menit, dan alarm hape ku pasti akan bunyi lagi.

Benar saja, 10 menit kemudian alarm hape ku bunyi lagi. 10 menit berasa cuma satu detik saja. otak ku mengomando badan ku agar segera baranjak dari tempat tidur kecilku yang nyaman. kaki-kaki lunglai ku membawa ku berjalan berlahan merepet dinding menuju kamar mandi, he he merepet dinding! kayak tikus aja jalannya merepet dinding! Aku membasuh wajah kusut ku dengan air dingin, seketika mata sepet ku langsung melek karena dinginnya air menjalar menusuk-nusuk wajah ku yang pasti nya juga masih awut-awutan.

Aku melanjutkan perjalanan berat ku ke dapur, mengambil gelas, membuka sachet white coffee satu-satunya yang masih tersisa,menuangkan air panas dari dispenser yang nyolok 24jam, mengambil sendok teh, dan mulai mengaduk-aduk. Dan kembali ke kamar ku..

Biar gak ngantuk, aku memutuskan memasang sumpelan telinga ku dan memencet-mencet hape bulukanku sok serius, mencari-cari playlist yang ku buat sendiri. begitu ku temukan playlist yang ku arrange sendiri itu, ku putarlah lagu-lagu yang ada didalam nya. Playlist itu berjudul Geje time, isinya adalah lagu-lagu gak jelas campur-campur dari yang nge-beat, sampe yang slow motion.

Aku mengambili satu-persatu baju-baju ku yang kotor dari gantungan, di lantai, dan memindahkan nya ke keranjang pakaian kotorku yang berwarna pink di pojok ruangan. Aku memandang berkeliling sesaat, dan kemudian memutuskan untuk merapikan kamar ku sebelum kutinggalkan selama satu minggu. Ku ambil tas plastik hitam bekas besar dari tempat tas-tas plastik bekas lainnya, ku punggut botol-botol air mineral sisa kemarin, dan beberapa kaleng beer yang dengan sengaja ku beli ketika kebosanan akut menyerang. Ku aman kan barang bukti itu dari publik, dan mengambil sapu, mulai membersihkan lantai kamarku di dini hari. Semua kegiatan itu tentu saja akan sangat membosankan jika dilakukan dengan cara yang biasa saja, bukan aku namanya jika tidak melakukan hal-hal gak jelas, teman-teman kantorku saja pada setuju kalau aku ini memang agak gila pada saat-saat tertentu.

Terinspirasi dari lagu-lagu yang ku putar didalam playlist gejeku, aku berjoget-joget sambil melakukan semua kegiatan diatas itu. Saking semangat nya aku berjoget ria sambil membersihkan kamarku, tanpa terasa ternyata hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk membuat kamarku kembali rapi dan kinclong. Barang-barang yang akan kubawa sudah siap berada didalam ranselku. Laptop, charger laptop, modem, charger hape bulukanku, kabel data, novel baru ku, buku penelitian level J, buku contoh soal level AII EE, buku diary, perlengkapan mandi, kotak make up, dompet, daleman, buku sketsa ku, dan buku pink ajaib ku.
he he.. Aku memang tidak berencana untuk membawa banyak baju, yang penting daleman aja lah, lagian aku bisa pakai baju-baju saudara perempuan ku. Dia dan aku hampir sama. jadi no problemo.

Sepatu sneaker ku yang comfy terlihat matching dengan kaos kaki ungu yang ku kenakan. Aku mengisi penuh bahan bakar motor ku sebelum meninggalkan surabaya. Meskipun perjalanan yang akan aku tempuh di dini hari yang masih gelap itu tidak akan memakan waktu lama, tapi yah lebih aman kalau bahan bakar penuh terisi.

Masih dengan sumpelan kuping alias earphone di telingaku, dan alunan musik dari playlist gejeku. Aku memacu motor otomatisku yang sudah menemaniku sejak 6tahun belakangan dengan kecepatan sedang merayap mulai meninggalkan Surabaya yang masih tertidur. Ketika sampai pada perempatan entah apa nama perempatan itu, dekat dengan taman flora. Seakan-akan menghadapi pilihan berat dalam hidupku, aku ingin sekali melewati jemur sari namun sesuatu membuatku enggan, he he lebay! Aku memutuskan untuk lurus saja, melewati jalan ngagel, lurus hingga keluar dari ngagel dan sampai di Jalan A.Yani yang pagi ini sangat lengang.

Di setiap lampu merah, dimana aku dan beberapa orang yang juga mengendarai sepeda motor berhenti sejenak. Aku memperhatikan, sepertinya aku menjadi pusat perhatian pagi ini. Aku bertanya-tanya sendiri kenapa aku jadi pusat perhatian? Penampilanku kah? Sepatu sneakers ku kah? motorku kah? apa? kenapa segelintir orang ini selalu menoleh padaku ketika melewati ku?

Aku cuek bebek saja, dengan percaya diri, aku memacu motor ku dengan kecepatan sekitar 50 sampai 60km/jam menuju kota kecilku, sambil bernyanyi-nyanyi sepenuh hati, dan sedikit menggerak-gerakkan kepalaku mengikuti musik yang sedang kudegar. Sesekali karena saking menghayati lagu nya, aku sampai merem melek merem melek melantunkan lagu itu keras-keras dijalanan.

…  dan aku baru tersadar.

Ternyata, tingkah polah ku dijalanan yang membuatku menjadi pusat perhatian. ha ha .. Tanpa malu aku mendendangkan lagu-lagu favorit ku keras-keras dijalan, padahal perlengkapan perang ku sudah menutupi mulut ku dan kepalaku berada aman didalam helm. Ternyata, ahh ternyata mungkin suara ku yang melengking-lengking mendendangkan lagu mengundang decak kagum pengguna jalan lain.

Mungkin orang-orang itu berpikir ni cewek waras apa gak, pagi buta begini nyanyi-nyanyi keras-keras dijalanan tanpa malu-malu?

Well, aku hanya merasa bebas pagi ini. itulah kenapa aku sampai-sampai bernyanyi keras-keras dijalanan tadi.

he..he..he..

-Kamar tua ku-

 

 

 

2 Comments »