Warna Langit

Juni Safitri

Cappuccino

on September 19, 2012

#lanjutan dari cerita berjudul ‘Pukul 7 pagi’

Dia sudah sampai pada bab ke 46, berjudul “HATI TAK PERLU MEMILIH” di halaman 423. Semakin tak sabar rasanya, dia ingin segera mengetahui bagaimana akhir kisah didalam novel itu. Sejak kemarin yang ada didalam otaknya hanyalah menamatkan buku itu, tak ada yang lain. Sedang asyik-asyik nya membaca dengan alunan musik klasik yang menemani hening nya kamar kos itu, sebuah ketukan pintu terdengar diikuti oleh suara lembut seorang wanita di balik pintu.

“Mbak Jingga?” terdengar lirih dari balik pintu.

Tak langsung menjawab sebuah suara yang tiba-tiba muncul itu, dia mengucek-ucek matanya, dan melirik jam dinding. “Iya..” jawabnya singkat. Dia bangkit dan memaksakan punggungnya untuk tegak, menghampiri pintu, memutar kenopnya, dan membuka daun pintu kamarnya perlahan. Didapatinya seorang wanita separuh baya dengan dandanan ala kadarnya membawa keranjang pakaian yang menebarkan aroma wangi menyegarkan.

“Mbak Jingga, ini bajunya sudah saya setrika..” Kata wanita itu dengan senyum simpul di bibirnya.

“Aduuuh, buk Seh.. biar tak ambil sendiri besok pagi ndak pa pa, ngerepotin aja sampe dianter ke kamar segala.” Kata gadis yang memakai outfit super nyaman itu, kemudian dia meringis lebar.

“ndak pa pa mbak, sekali-kali dianter juga buk Seh ndak keberatan.” Balas ibu itu ramah, menepuk pundak sang gadis pelan, dan pergi meninggalkan nya dengan langkah pelan pula.

“Maaakaasiihhh buk Seehh, he he he” Jingga terkikik melepas kepergian buk Seh.

. . .
Dia sedang duduk-duduk santai di sebuah ruangan yang memberikan pemandangan indah kota Surabaya dimalam hari. Kelap-Kelip lampu dari rumah-rumah penduduk sekitar dan lampu jalanan tampak memikat. Dari tempat tinggalnya yang kini berada dilantai 19 itu tampak dikejauhan view jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau madura dan Surabaya.

Pagi ini dia harus bangun pada ungodly hour dan mengepak semua barangnya yang memang sebagian sudah tersusun rapi didalam box box kecil dan besar. Seorang lelaki paruh baya dengan senyum lebar dan kumis tebal membantu mengangkut semua barang-barang nya ke atas mobil bak terbuka.

Lelaki itu mengekor di belakang mobil bak terbuka dengan sepeda motor barunya, dia sangat berhati-hati mengendarai sebuah kendaraan bermotor karena dia mempunyai pengalaman buruk ketika dia masih muda dengan jalanan ramai dan kendaraan yang berlalu-lalang.

“Sudah semua mister?” Tanya lelaki paruh baya itu.

Yes, makasih pak” Jawabnya singkat. lelaki dengan senyum lebar dan kumis tebal itu pergi meninggalkannya, kini dia menghela nafas dalam dan panjang. Dia senang, akhirnya dia pindah ke apartemen kecilnya sendiri. Dia membiarkan barang-barang nya berserakan begitu saja, masih berantakan. Tak berniat untuk cepat-cepat membersihkannya dan merapikan ruangan itu. Dia bersiap untuk pergi bekerja.

dan sekarang matanya masih terpukau dengan pemandangan indah dari jendela di ruangan kecil itu, dia melahap singkat nasi goreng dan telur goreng yang dia beli sepulang dari bekerja. Masih dalam setelan kerja nya, dia berjalan mondar-mandir dari dapur mini di pojok ruangan tepat disebelah pintu masuk dan kembali ke ruangan dimana dia makan malam, sendirian.

. . .
Pagi ini Jingga terbangun dengan wajah sumringah, karena semalam dia telah berhasil menamatkan novel setebal 440 halaman. Dia puas sekali dengan akhir cerita yang bahagia, entah kenapa seakan-akan mindset nya hari ini pun secara otomatis menjadi cheerful. Dia bahkan mendendang-dendangkan lagu-lagu khas orang yang sedang kasmaran di kamar mandi. Dan menghabiskan sedikit waktu lebih panjang di depan cermin, memandangi wajahnya, lalu tersenyum-senyum tanpa arti.

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan dia sudah bersiap untuk pergi bekerja, dia harus sudah berada di kantornya sebelum jam 10 pagi. Hari ini adalah hari selasa, dan hari selasa itu berarti dia harus bekerja dari jam 10 pagi hingga jam 8 malam. Tak seperti biasanya, hari ini dia kelihatan santai dan ringan melangkahkan kaki-kakinya menuju tempat kerja.

Dia bahkan menyapa buk Seh yang sedang menyapu lantai, dengan senyuman lebar dan nada sangat menyenangkan. “Met paaaagiiiii buk Sehh…” lalu mengambil kunci garasi yang selalu terletak dimangkuk di atas mesin cuci. Dia membuka garasi, menemukan motornya dan satu motor lain terparkir disana, di keluarkan lah motor itu, menutup pintu garasi dan mengembalikan kunci nya ke tempat asal. Dia menyalakan mesin, duduk diatasnya, menunggu beberapa menit saja, mengenakan masker legendarisnya, lalu helm, kemudian pergi meluncur ke jalanan.

Entah kenapa hari ini semuanya terasa begitu indah dimatanya, dia bahkan senyam-senyum tidak jelas didalam masker bergambar kucing legendarisnya itu sepanjang jalan. Tidak ada yang tahu tentu saja kalau gadis itu senyam senyum lebar tak terkira didalam masker imutnya. Daun-daun yang meranggas dan jatuh terhempas ke bumipun kelihatan begitu indah lenggak-lenggoknya. Mendadak dari pandangan matanya, apapun yang dia lihat membuat hatinya begitu hangat. Hangat sekali.

. . .
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, badan nya masih segar dan beraroma sabun, baru selesai mandi. Rambut ikalnya pun masih mengumpal-nggumpal oleh air, basah. Dia menggaruk-garuk dagunya tidak gatal, lalu tersenyum simpul didepan kaca. Dia berjalan keluar dari kamar mandi sederhananya, membiarkan pintu tetap terbuka, memencet tombol di tembok persis disebelah pintu, mematikan lampu didalamnya.

Dia menyebrangi ruangan kecil dimana tempat tidurnya berada, memasuki ruangan kecil selanjutnya di balik tembok dimana dia meletakkan lemari pakaiannya. Diruangan kecil itu, masih tak keruan rupanya, satu set kursi rotan dengan bantal-bantal kursi tipis berwarna coklat, dan rak buku dari rotan pula masih belum menemukan tempatnya yang sesuai. Begitu saja menempati spot-spot seadanya tanpa pengaturan mendetail. Dia mengaduk-aduk sebuah box berisi pakaian kerjanya, mengambil sebuah kemeja berwarna merah marun, kemeja favoritnya, dan celana kain hitam, serta dasi kerja yang matching dengan kemeja merah marun itu.

Sebelum dia pergi meninggalkan apartement barunya itu. Dia sempat melihat sekilas dirinya didalam cermin, dan berpikir bahwa penampilannya begitu sempurna hari ini, tersenyum kembali tanpa arti, lalu berangkat bekerja.

. . .
Pukul 7 malam, Jingga sudah bolak-balik melirik jam dinding di kelasnya. Semua muridnya telah pulang, kini tinggal dia dan teman-teman seprofesinya mengobrol dan membahas apa saja yang terjadi hari ini. Mereka semua tertawa-tawa seru membicarakan beberapa siswa yang berkelakuan aneh hari ini. Jingga pun ikut tertawa-tawa.

Namun pikirannya kini telah berada di sebuah kafe didekat rumahnya, sebuah kedai kopi kecil yang sering ia kunjungi bersama dengan temannya. Sebentar lagi dia akan makan malam disana, pikirnya.

Dengan cepat ia mengembalikan motornya kedalam garasi tempat dimana motor seharusnya berada, melemparkan kunci garasi ke mangkuk. Dan secepat kilat menaiki tangga menuju kamarnya, dia tak ingin menemui teman yang telah satu tahun ini dia kenal dengan seragam mengajarnya, maka dia memutuskan untuk berganti baju dengan dress yang santai. Dia tampak manis dalam dress hitam dengan motif bunga-bunga nya itu, tak sempat mengeluarkan isi tas kerjanya, dia tentenglah tas kerja itu bersamanya. Dia berjalan menuju tempat dimana dia akan bertemu seseorang dengan langkah-langkah lebar dan cepat.

. . .
Tak ingin berlama-lama melakukan basa-basi dengan guru-guru yang lainnya, dia permisi pergi meningalkan tempat kerjanya. Dia memacu kendaraan barunya itu menembus malam mencoba mengingat-ingat jalan yang akan dia lalui. Yang dia ingat adalah jalan lurus, kemudian 2 lampu merah, dan u turn, lalu belok kiri. Dia sudah melewati lampu merah pertama, dia mengali ingatannya, mengingat apakah sebentar lagi dia belok kanan setelah lampu merah selanjutnya. Matanya awas, memperhatikan setiap tanda dijalanan.

Dia mencari-cari nama jalan yang dia ingat, membaca tulisan apapun itu yang ada di jalanan. Tiba-tiba dia sampai di depan sebuah universitas besar. Seketika itu dia ingat, tempat ini adalah tempat dimana teman yang akan dia temui mengambil kelas TOEFL, dia masih ingat betul melewati universitas itu menuju sebuah restoran kecil dimana mereka berdua pernah menonton band dan makan. Tidak tahu harus kemana, dia memutuskan berhenti dan menelepon seseorang.

. . .
30 menit telah berlalu sejak dia memesan makanan nya, nasi campur dengan lauk daging dan kering tempe serta abon, dan cappucino. Jingga makan asal-asalan dan sangat lambat, berharap sebuah wajah tirus berbadan ceking muncul dihadapannya. Dia sangat khawatir tentu saja. Bagaimana cerita ayah temannya itu mendapatkan kecelakaan dengan sebuah motor kembali terngiang di telinganya. Namun. Tiba-tiba telepon selulernya bernyanyi. Ahh Julian!.

. . .
Setelah mendapatkan beberapa instruksi dari suara seorang gadis di seberang teleponnya, dia kembali menjalankan motornya. Kini dengan kecepatan super lambat dan lebih memicingkan mata, memandang ke segala arah, sambil berkonsentrasi ke jalan, mencari sebuah tanda yang di maksudkan. Ketika dalam radius 5meter dia melihat sebuah tanda yang dimaksud, dia menambah kecepatannya, dia tahu dimana dia berada sekarang. Ini adalah pertama kalinya dia tersesat, dia tak pernah tersesat sebelumnya karena dia tak pernah khawatir dengan arah jalan, biasanya dia hanya tinggal duduk saja didalam taksi, menunggu hingga sampai ditempat tujuan.

. . .
Jingga akhirnya mendengar bunyi lonceng dipintu kafe berbunyi, seseorang berkemeja merah marun, melemparkan senyum super lebar padanya. Jingga berdiri bermaksud menyapa temannya itu, namun tangan kiri nya menyenggol gelas cappuccino di meja. Dan tumpahlah isi gelas itu kemana-mana, ke atas meja, ke lantai. Mereka berdua terpaku selama satu detik kemudian tertawa-tawa atas apa yang baru saja terjadi. Namun sekarang Jingga bernafas dengan lega. Syukurlah Julian sampai di Phoenam Kedai Kopi dengan selamat.

. . .
Lelaki itu akhirnya bernafas lega.. Sambil tertawa-tawa dia memperhatikan seorang gadis yang berdiri dihadapanya, teringat terakhir kali sebelum dia berlibur ke Jogja, menghabiskan malam yang sangat menyenangkan menonton band, makan, dan mengobrol apa saja dengan orang didepannya ini. Ahh.. She always looks lovely.

. . .

 

 

 

Advertisements

2 responses to “Cappuccino

  1. Satiti says:

    Great short story diary June 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: