Warna Langit

Juni Safitri

Satu Setengah Jam

on September 25, 2012

#Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing… Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing….. Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

Ahh!! Sial! Sudah jam 4,.. kenapa waktu berjalan cepat sekali.

Aku memaksakan diriku untuk membuka mata, kemudian melawan gravitasi untuk duduk dan memutuskan untuk berdiri. Aku meraba-raba dinding, mencoba menemukan pencetan lampu kamarku. Aku ingin menghadirkan cahaya secepatnya didalam kamar yang gelap ini. Kegelapan membuat otakku ingin beristirahat, namun pagi ini aku harus bersiap sebelum jam 5 pagi.

Lampu sudah menyala, baiklaahh! Semangatt!! Aku berkata pada diriku sendiri setiap hari untuk tetap bersemangat. Ya, tentu saja, kalau bukan diriku sendiri yang menyemangati aku, lalu siapa lagi. Aku meraih gelas yang memandangiku dari balik tumpukan buku yang ku biarkan diatas meja tanpa aturan artistik, berantakan!. Seteguk dua teguk air yang mengalir melalui tenggorokanku sedikit memperkuat sugesti yang ku buat untuk diriku sendiri agar tersadar dari alam mimpi yang baru saja ku jalani. Seperti nya aku tadi bermimpi, tapi entahlah mimpi apa, aku tak berniat mengingat-ingat mimpiku. Ku aduk-aduk tas serbagunaku, mencari karet rambut. Ku gelung rambutku sampai ke atas. Ku hampiri sandal kamarku yang sejak tadi menunggu untuk ku injak-injak, membuka pintu, dan pergi menuju kamar mandi.

Jam 5 pagi teng ya Jeng Jun. Ku baca pesan singkat dari teman ku, Anita, setelah kembali ke kamar untuk menyiapkan barang-barang apa saja yang akan ku bawa. Surabaya pada jam 4 pagi masih mendengkur, entah dari mulut siapa ide gila untuk meninggalkan kota yang masih mendengkur itu muncul, tapi ketika ku lirik angka-angka pada pojok kanan atas layar ponsel ku yang sekarang menunjukkan jam 4.15, mendadak mau ga mau aku harus mempercepat proses penyiapan barangku.

Hm apa lagi ya? Laptop, charger laptop, modem, hape, dompet, map ijazah, sabun wajah, sudah semua kayaknya ahh. Ku tenteng tas serba gunaku. Ku bawa menuruni tangga, pelan-pelan, aku ga mau membangunkan semua orang, ku ambil kunci gerbang yang menggantung pada sebuah paku diatas mesin cuci di bawah tangga. Ku buka gembok gerbang rumahku yang super berat dan besar sekuat tenaga, mendorong besinya untuk bergeser dan memberikan ruang agar kendaraan ku bisa keluar. Menyalakan mesin mobil, lalu mengembalikan kunci gerbang ke tempat semula. Dan menunggu didalam mobil hingga mesin sudah cukup panas untuk dijalankan.

Aku mendengus beberapa kali sebelum berhasil mengeluarkan mobil ku dari jebakan halaman rumah yang tak begitu lebar dengan beberapa mobil didalam nya. Untunglah Kijang hijau tua hari ini tidur di pojok, jadi dia tak semena-mena memakan tempat parkir untuk mobil yang lainnya. Setelah berhasil membebaskan diri dari cengkraman tempat parkir yang sumpek, aku harus sekali lagi menyentuh dinginnya besi pintu gerbang ku, menutup, lalu mengaitkan kembali gemboknya.

Kulihat sekilas jam digital kecil pada dasbor mobilku, ahh! Jam 4.55. Tampak di kejauhan seorang gadis manis sedang berdiri dengan tas ransel dipunggungnya dan pandangan sibuk ke layar ponsel. Ku turunkan kaca mobil ku dan menyapanya, “Heeeeey, bbm an mulu! Ayo masuk.”

“hi hi hi..” kikiknya singkat memamerkan deretan gigi-gigi putih dan rapi.

“Tepat waktu juga..” lanjutnya sambil memindahkan tas ransel di jok belakang begitu dia mendaratkan pantatnya dia atas jok disampingku, dan menutup kembali pintu mobil.

... namun apalah artinya, cinta pada bayangan.
Biar aku yang pergi, bila tak juga pasti.
Adakah selama ini, aku cinta sendiri.
Biar aku menepi, bukan lelah menanti.
Namun apalah artinya… cinta pada bayangan..

“Pedih aku rasakan, kenyataan nya cinta tak harus selalu milikiiiiiiii…” Aku memulai perjalananku pagi ini dengan Anita sambil mendendangkan lagu dari grup band asal Bandung favoritku, Kahitna. Tanpa sedikitpun rasa malu aku bernyanyi mengiringi suara yang muncul dari CD player ku.

“Dasar aneh! Pagi-pagi buta begini malah muter lagu super melow.” Kritiknya, sambil menoleh ke arah ku. “sumpah suara mu memang cempreng Jun! Ha ha..” belum puas rupanya dia. “and .. kamu pake sandal jepit kamar mandi ya, sumpah lagi, dandanan kamu pagi ini ancur, celana pendek, kaos oblong, sandal jepit, rambut ga karuan. Ha ha ha..”

Puas sekali sepertinya hidupnya, aku biarkan saja dia mengatakan apapun tentang penampilanku pagi ini. Ya aku memang belum mandi, untuk apa mandi pagi-pagi buta begini. Aku juga belum ganti baju, hanya kaos oblong dan celana pendek yang membalutku ketika tidur dan sekarang ini masih ku kenakan, “Eh, tapi aku sudah bersiin ketek di mata yang indah ini tau, he he he.” Jawabku sekenanya sambil mengerjap kan mataku beberapa kali padanya.

“cewe ga jelas… ha ha.” Timpalnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Cerewet, seat belt please.” Balasku mengingatkannya untuk mengencangkan sabuk pengaman.

… di ujung jalan itu. Setahun kemarin.
Ku menunggu mu, bidadari belahan jiwaku…

Lagu-lagu kahitna tetap mengalun manis didalam mobil tanpa berdosa akan menemani perjalanan kami berdua selama satu setengah jam menuju kota kecil bernama Bangil.

. . .

“Kita lewat mana? Jemursari? Apa ngagel?” kata ku meminta pendapat ketika kami hampir mencapai sebuah perempatan jalan didekat taman flora.

“Jemursari aja lebih cepet.” Kata Anita cepat.

“oke dehh.” Mata ku tetap melekat dijalanan meskipun memang masih lengang dan sepi, tanpa menoleh pada nya aku tetap berceloteh, “kalo siang ogah banget lewat sini, macet ciinn.” Ahh! Mantan terindah. Rupaya yang sedang mengalun sekarang lagu berjudul mantan terindah, refleks aku ikut menyanyikan liriknya. “Mengaaapaaaa engkaaauuu waktu ituu putussskaaan cintaaaakuuuu.. daaaan saaaaat ini, engkau selaluuuu ingin bertemu, dan mengulaaaang jaaaaaliiiiiiiin cintaaaaaa”

Dan Anita pun ternyata ikut menyumbangkan suaranya, “Mauuuu dii kaaaaataaaaaakan apalaaaagiiiii, kitaa tak akaaaaaan pernah satuuuuuuuuu. Engkauuuu disaaanaaa aku disiniiii…. meski hatikuuuu memilihmuuuuuuuuuuu…”

“ Ha ha ha…” kami berdua tertawa-tawa setelah menyanyikan sebait lagu melow itu.

“Ga ada lagu lain ya?” Tanya anita sambil memeriksa tempat ku menyimpan harta karun dibawah dasbor mobil, dia membukanya dan memekik pelan. “Busyet! Berantakan amat! Isinya Cuma sunglasses dan barang-barang kurang bernilai. Ha ha..”

“ha ha, ga sopan. Ini kan rumah berjalan ku. Ya isinya memang keperluan sehari-hari lha.” Jawabku sambil tetap menatap aspal jalanan. “pokoknya hari ini adalah hari saking terkenal nya.” Lanjutku sambil mengikik.

“apa’an? Hari saking terkenalnya?” tanya Anita heran.

“iya, kalo di bahasa Bandung kan jadinya Ka-Hit-na. Hua ha ha..” aku tertawa dengan kata-kata ku sendiri. Entah apa yang lucu, tapi menurutku memang apa yang baru aku sampaikan itu lucu.

“ha ha ha.. dasar gadis nopek gila.”

Tak kusangka Anita juga tertawa dengan kata-kata ku, tapi tunggu dulu.. “Hey? Gadis nopek udah ga jaman..” Aku protes, kenapa julukan ku masih sama sejak insiden Oom-Oom dari Aussie muncul dalam hidupku.

“terus? Gadis apa’an? Gadis ce tiau gitu? Ha ha ha.” Tanya Anita sok serius dengan nada berat dan dalam.

“hah Ce tiau tu berapa? Sejuta yah? Ha ha ha… ya boleh lha..” Timpalku usil. Kami baru saja melewati sebuah restoran Thailand bernama Sawadee, restoran yang penuh dengan nyamuk, dan musik yang kurang berkualitas. Aku pernah mengunjungi restoran itu dengan teman ku, Julian, dan kami memutuskan tidak akan pernah kembali ke restoran itu apapun yang terjadi.

“Seneng banget kayaknya disebut gadis ce tiau?” Tanya Anita padaku atas reaksi ku dengan sebutan yang baru saja muncul, gadis ce tiau.

“Kedengeran lebih keren aja dari pada nopek, ya ga?” kataku sambil berpikir-pikir, apa memang iya lebih keren. “gimana kalo sebutan ku balik ke asal ajah, gadis cantik? He he”

“Sejak kapan kamu dapat sebutan gadis cantik? Gadis aneh bin gila iya. Ha ha ha.” Tak ayal dia tertawa-tawa setelah mengucapkan kata-kata aneh dan gila. Tak tau kenapa, memang dia benar. Terkadang jika aku sedang tak ingin bersikap normal, aku mengacak-acak rambutku sendiri seperti orang yang sedang keramas, dan kelakuan ku itu mengundang pro dan kontra dikalangan asisten di kantor.

“Aku kangen banget sama Satiti persik.” Balas ku tiba-tiba sambil menerawang dan berkonsentrasi sekaligus.

“Tuh kan ga nyambung.” Lagi-lagi Anita hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata yang baru saja ku produksi. “Kita lagi ngomongin elu, nyambungnya ke Satiti persik.”

… dan lagu-lagu Kahitna tetap mengalun setia.
Oh eeeyaaa… oh eeeyaaa…
Indah rambutmu mengurai kata cinta.
Tiada indah dunia,tanpa kehadiran mu oh
Deru hatiku menembus batas rindu.
Jelas artinya surga, teduh aku dekatmu.

“ha ha.. bodo amat. Tapi kantor sepi kalo ga ada dia. Ga ada lagi yang akan tiba-tiba menyanyi di segala suasana. Persis seperti dewi persik yang lagi diwawancara.” Celetuk ku spontan.

“iya kamu bener, gadis nopek.” Jawab Anita sambil tiba-tiba menerawang menembus jendela mobil.

“Heeeey, koq balik lagi jadi gadis nopek seeeeh?” Jeritku tak terima.

Anita membetulkan posisi duduknya, kemudian dengan tenang berkata “Kamu lebih cocok dipanggil gadis nopek aja, Jun.” Kemudian dia meledak dengan tawa kerasnya.. “HA HA HA”

“Sialan!” aku bersungut-sungut dibelakang kemudi , meskipun begitu senang sekali kepulanganku kali ini Anita bisa menemani. Biasanya aku sendirian saja, menyetir sambil sesekali melamun, menyanyi-nyanyi sendiri, tak bisa melakukan percakapan seperti yang kami lakukan sekarang. Meskipun omongan kami tak tentu arah, bahkan kebanyakan percakapan antara aku dan teman-teman kantorku memang tak pernah tentu arah. Namun tertawa bersama-sama adalah hal yang paling menakjubkan di dalam kehidupan manusia.

Sampai nanti, tak berbatas ingin ku, harap ini takdirku.
Tuk selalu dengan mu.
Sampai nanti, jiwa ini untuk mu.
Bukan hanya sumpah ku, tuk selalu denganmu.
Oh dewi ku…
Keluguan mu hapuskan beban dunia.
Ini arti suci ku, tegas inginkan kamu.

“Jadi oyeks seperti apa yang anda inginkan?” kata ku sok serius setelah beberapa menit kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ha ha.” Anita memulai menjawab pertanyaan ku dengan tawa. “Yang ganteng, idung mancung..”

“..dan super brewokan juga.” Lanjutku

“Hua ha ha ha…” keras sekali suara tawanya kali ini, bahkan mungkin terdengar dari luar mobil. “gile, ya enggak lha.” Katanya sambil mengusap ujung matanya yang berair.

“Jangan salah jeng, oyeks dengan super brewokan itu populer dikota saya.”Sahutku dengan kata-kata panggilan dan sebutan diri sendiri secara formal.

“ha ha, engga deh makasih.” Lanjut Anita sambil tetap tertawa-tawa.“Pokoknya yang idung nya mancung ajah dehh. Hi hi.”

“Ohh, dasar oyeks hunter.” Balas ku bercanda.

“ye, eke oyeks hunter. Ente bule hunter. Ha ha ha.” Dia tertawa lagi, lalu melanjutkan kalimatnya, yang ternyata belum selesai. “sama-sama idung mancung hunter ye bo’.”

“ha ha.. bukan salah bunda mengandung cinn. Ehh, apa hubungannya ya,ha ha.” Aku sedang berpikir kenapa kalimat itu yang muncul dari mulut ku. Memang tak salah aku di sebut aneh. “sebenarnya aku lesbi, itu semua cuma sebagai kedok aja biar ga ketauan ha ha ha.kidding. Eh tapi by the way dan ngomong-ngomong, denger-denger oyeks yang super brewokan itu kuat lhooo.”

Anita kali ini tertawa sambil memegangi perut nya. “HUA HA HA HA..” tak mampu membalas kalimatku rupanya. Lalu aku memutuskan menambahkan sesuatu yang terbersit didalam otakku.

“Aha! Ketauan. Ternyata kamu mencari yang kuat-kuat ya.” Aku manggut-manggut tanpa menoleh padanya, memegang dan mengelus-elus daguku sendiri dengan tangan kiriku, sedang tangan kanan ku masih memegang kemudi. “hm.. mungkin oyeks dengan super brewokan juga terkenal tahan lama, hi hi.” Puas sekali aku menggodanya.

“HA HA HA..” Anita benar-benar tak sanggup membalas kalimatku yang terakhir. Dia melanjutkan tertawa beberapa detik selanjutnya, kemudian berkata, “Aduh!perut ku sakit.”

Sekarang gantian aku yang tertawa. “ha ha, kasian.”

Suara Hedi Yunus dan kawan-kawan masih memenuhi suasana didalam mobil kecilku. Kali ini yang sedang berputar adalah lagu berjudul aku, dirimu, dirinya.

Aku, dirimu, dirinya.
Tak akan pernah mengerti tentang suratan.
Aku, dirimu, dirinya.
Tak resah bila sadari,Cinta takkan salah.
Andai waktu bisa kita putar kembali.
Jalinan cerita mungkin, tak begini.

Kami melaju menyusuri jalanan pagi di hari minggu yang indah. Sepanjang jalan kami menemui banyak orang yang mengendarai sepeda, berolah raga dihari libur. Sekitar setengah jam lagi kami akan tiba di kota kecilku yang bersih dan indah. Namun sepertinya Anita yang sedang duduk di sebelahku ini gusar. Aku penasaran sekali kenapa dia seperti itu, apakah dia gugup karena akan memasuki sarang oyeks, atau dia terlalu senang, atau malah dia menyesal ikut pulang denganku. Jadi aku memutuskan untuk bertanya saja,daripada hanya membantin. “kenapa? Kaya’ga tenang gitu duduknya?”

“Sakit perut.” Jawabnya singkat.

“ha ha, masak gara-gara kata-kata ku tentang oyeks yang super brewokan tadi sakit perut nya belom ilang habis ketawa-ketiwi?” celetukku asal saja.

“umm,berapa lama lagi kita sampai?” tanyanya, singkat.

“Tumben nadanya serius gitu?” aku jadi tambah penasaran saja. “kenapa sih?”

“Sakit perut,aduuh. Udah dibilang kan barusan.”

“Ahhh, ya ampun. Sory jeng Lola gue. Ha ha ha. Baiklahh, ngebuut.” Aku memutuskan menambah kecepatanku agar segera sampai dirumah. Gadis yang duduk di sebelahku ini harus segera diberi pertolongan pertama pada sakit perut.

Memasuki kota kecilku yang bersih, aman dan indah. Sepertinya dia mulai lega. Meskipun sejak mendeklarasikan diri bahwa dia sedang sakit perut, dia masih bisa tertawa-tawa kecil pada apa saja yang aku katakan. Jalan raya dimana bus-bus dan truk besar serta mobil-mobil segera berganti dengan jalanan tak begitu ramai. Rumah-rumah di sekitar jalan itu tampak berdiri tenang setenang keadaan sekitarnya,tak terlalu banyakkendaraan. Semakin lama, sebelah kiri jalan kini hanya ada sawah-sawah dan beberapa perumahan baru yang menggeliat perkembangan nya.

Aku mengurangi kecepatan laju mobilku, menyalakan lampu lighting sebelah kanan, bersiap untuk memutar kemudi kekanan. Aku memasuki sebuah pelataran rumah yang tak terlalu lebar namun bersih, dengan pintu pagar yang memang sengaja dibuka, mungkin seseorang baru saja keluar dari dalam. Rumah bergaya khas bangunan jaman Belanda, dengan pintu lebar, dan jendela-jendela besar menyambutku hangat. Aku menjejerkan mobil kecil berwarna hitam ku disamping sebuah mobil Jeep tua tahun 70 an,milik bapak ku. Mematikan mesinnya, kemudian menonaktifkan kunci otomatis yang mengunci semua pintu dari dalam.

“oke, udah nyampe’.” Kata ku kepada Anita sambil memasang wajah sumringah.

“Baiklahh, dimana WC nya?” kata nya tanpa basa-basi.

. . .

Advertisements

2 responses to “Satu Setengah Jam

  1. satiti says:

    Masa yang diinget dari aku cuma tukang nyanyi di segala suasana….heuheuheu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: