Warna Langit

Juni Safitri

Kembaran nya Alien!


Lama kagak ngetik-ngetik, lalu posting-posting di blog ini. Hehe…
Entah apa yang terjadi, tapi akhir-akhir ini my life berasa garing-ring. Kayak krupuk super renyah yang begitu beradu dengan gigi langsung patah. Hiyah! Kagak nyambung kayaknya. Bai de wai, jika mengingat kembali kejadian akhir-akhir ini, kilas balik nya ya ga jauh-jauh sih sodara-sodara, Kira-kira 2 bulan – 3 bulan yang lalu lah. Kontrak kerja ku di sebuah kursus matematika dan Bahasa Inggris berakhir, dan aku tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan hidup ku di situ, yang menandakan aku harus bergumul lagi dengan berbagai jadwal interview, dan menghabiskan waktu di jalanan, observasi dan nyari alamat. lalu teman kerja ku meninggal dunia, dan sebelum dia meninggalkan kami semua yang masih bernafas ini, hmm gimana ya rada panas gitu lah situasi kondisinya dengan diriku ini, dan diriku ini tidak sempat minta maaf secara tatap muka alias face to face dengan dia, dia keburu kembali ke tangan Tuhan. Menyesal. Dan satu lagi yang krusial, bukan 4 huruf akhirnya doang lho, tapi pake prefix kru, hehe. Aku akan mencapai seperempat abad di tahun 2013 ini. Damn! Berasa tua deh. Pengen rasa nya stay di usia tertentu gitu, 23 tahun terus misalnya, bahagia tiada tara pastinya hati ini, tapi yah namanya juga manusia, perjalanan nya kan dilahirkan kedunia, menggoreskan cerita, lalu meninggalkan nama. Begitulah.

Tiga hal itu somehow, lately bikin hidup ku di negara dengan langit-langit yang rendah ini berasa kosong melompong. Jujur saja, yah maaf ya bagi yang kecintaan nya akan negara ini sangat mendalam melebihi dalamnya lautan, rasa nya daku ini tidak punya keinginan secuilpun untuk survive di negara ini. Negara dimana disebuah kantor pajak di Jakarta pusat, ibu kota yang lebih kejam dari pada ibu tiri itu, terdapat sebuah meja ping-pong tepat di sebelah ruang kerja. (ini bocoran dari orang yang melihat sendiri isi kantornya, dan orang nya sudah terbang kembali ke Jepang saat ini, malu nya dengar itu dari orang yang ngambil jurusan macro-economi di universitas ternama di negara Sakura). Lho-lho kalo di baca ulang kayaknya kalimat yang barusan itu ga singkron. Yah keep typing lah jun! Kata suara di dalam kepalaku ini. Marilah kita singkap, kenapa aku kembali beredar di blog ku setelah beberapa saat vacum. Dan mendapatkan kembali secara mendadak, inspirasi! Yeahhh! Let’s write beibehh!

Jumat, tanggal 5 April lalu. Males rasanya bangun dari tempat tidur ku yang nyaman dengan kasur sepon yang empuk. Pengen molor sampe siang. Tapi sayang nya, sekarang ini aku terpaksa bangun jam 5 dini hari everyday, menjemput rejeki. Kantor baru ku ini letaknya bertolak belakang dari tempat tinggal ku yang sekarang. Aku berdiam diri di Surabaya bagian timur, sedangkan tempat ku mengais rejeki di Surabaya bagian barat. Sebuah sekolah yang konon memakai kurikulum USA, yang menggunakan bahasa pengantar full English, yang anak-anaknya hidup di negara yang sama, namun dalam budaya yang berbeda (well, marilah kita bahas tentang itu, di bagian tulisan yang berbeda, a.k.a next time ajah bahas tentang budaya orang-orang borjuis itu). Jadi, sampai dimana tadi? Hehe oh iya, jumat yang malas. Aku memulai hari ku dengan pikiran melayang. Bagaimana tidak, yah hari Jumat yang ku tunggu-tunggu sejak bulan Desember 2012. Ketika my brother, baru saja kembali dari Jepang. Setelah menyelesaikan studinya di sebuah fakultas ekonomi ternama di Jepang. Membawakan ku sebuah kabar yang sebenarnya ga ada hubungannya sama aku sih, kita ngobrol santai aja waktu itu, ketika dia dengan ringan menyebutkan kalo teman kuliah nya di Jepang akan mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat. Antara interested and kagak interested, ya ku dengerin ajah lah cerita kakak ku ini. Hingga pada akhirnya, dia mengungkapkan udang di balik batu nya atas pembeberan cerita seorang teman yang akan mengunjungi Indo itu. Begini kira-kira kata-kata nya waktu itu, “ade, kamu punya teman di Bali yang bisa ku kenalin sama temannya mas ga?” ealahh, teryata disuruh nyariin cewe tho intinya.

Sebagai sodara yang baik dong, aku sih responnya ya kira-kira kayak gini waktu itu, “banyak sih mas, teman-teman ku dulu jaman kuliah masih ada beberapa yang tinggal di Bali. Cuman ga kontak lagi.” Dan seperti yang aku duga, setelah mendengar inti sebenarnya pembicaraan ini, dia follow up jawaban asal-asalan ku dengan sebuah permintaan nyariin cewe buat teman nya itu. Perlu diketahui sih sodara-sodara, (hehe berasa pidato) kalo teman yang mas ku bicarakan ini, bukan orang Jepang asli kok, (padahal awalnya aku juga kira ni orang uasli buatan Jepang, ternyata bukan, itu juga ada kaitannya dengan pilihan yang ku buat selanjutnya. Hihi) jadi, orang ini berasal dari antah-berantah, sebuah tempat yang jauh nun disana, di bagian bumi yang lain, Amerika Selatan. Tepatnya Paraguay. Ketika aku akhirnya tau kalo orang yang dibicarakan ini bukan orang Jepang, aku masih belum tertarik sih. Biasa ajah lah. Aku juga ga berusaha kontak teman-teman ku yang masih bertengger di Bali, intinya ga niat juga nyariin si teman kuliah nya mas ku ini cewe yang akan nemenin dia selama di Bali.

Hingga suatu ketika, aku dan kakak ku sedang ngobrol via fesbuk, dia meyebutkan sebuah nama (yang di maksudkan itu ya tetap temannya itu yang akan berkunjung ke Indo). Iseng, aku copy lah nama itu dan ku search, dan muncullah sebuah foto lalu sedikit keterangan disana, hm tempat yang sama dimana kakak ku belajar, Universitas bla bla, Jepang, hehe. Ku klik lah foto orang itu, dan rasa nya kalo diingat-ingat lagi, ketika pertama aku lihat foto orang itu, aku langsung mangap! (ngerutin kening, mikir. Mengingat-ingat) you know what, wajah nya itu, unbelieveable!! Mirip pol sama Lhuay(tetep ya nama itu berkali-kali munculdi tulisan ku-tapi ga di blog ini). Mungkin mataku rada berair waktu lihat foto nya pertama kali, bagaimana mungkin ada orang yang mirip kayak gitu yang tinggal di belahan bumi yang lain, and tentu nya wajah nya itu Lhuay banget!.

Tanpa nunggu dua detik, saat itu juga ku add lah dia plus ku kirim lah sebuah pesan sok akrab sok kenal, mengenalkan diri sebagai sister nya mas ku itu. Again, iseng lagi ku tawarilah dia untuk berkunjung ke Surabaya, sapa tau aku bisa ambil poto orang ini secara langsung, oh God! Wajah Lhuay nya! Sebut saja aku memang sudah gila, menggilai satu orang saja sejak aku menginjakkan kaki ku di kelas 1 SD, sampai detik ini. Tapi whatever lah, aku juga ga tau bagaimana aku bisa hidup dengan memori full Lhuay di otakku ini. Permanent memori kayaknya. Ternyata oh ternyata, orang nya menerima usul ku dengan baik dan mungkin akan datang ke Surabaya. Let’s see lahh.

Awal tahun 2013, orang ini kirim pesan. Menganjurkan kalo aku lebih baik ke Bali ajah sama dia. And yang ada didalam pikiran ku waktu itu, whaat!! Sapa lu ngajak-ngajak ke Bali. Tentu saja semua yang dia anjurkan ku laporkan kepada sang kakak ku, yang statusnya adalah teman semasa di Jepang. Menurut informasi kakak ku ini sih, Si A ini orangnya baik (sebut saja si A lah), cuman agak bandel. Hiyahh, perpaduan yang sempurna, Lhuay banget, baik tapi bandel, again yang ada di otakku adalah Lhuay. (all the time)

Long story short, awal februari, di tangan ku sudah ada tiket pesawat pulang pergi, Surabaya-Bali. Berangkat Jumat sore, abiz cap cuss dari kantor, dan terbang kembali ke Surabaya minggu pagi. Aku sejujunya agak-agak lupa alasan kedua ku akhirnya memutuskan terbang ke Bali demi stranger berwajah Lhuay ini, tapi berhubung tiket pesawat udah di tangan. Ya sudah lah, tunggu saja tanggalnya datang.

Yup, Maret berlalu dalam sekejap mata. Tiba-tiba langsung bulan April aja. Daily rutin ku sejak bermarkas di Surabaya barat adalah, bangun jam 5, bikin cereal, mandi, makan cereal (masih pake handuk doang), pake baju, make up ringan on, meluncur di jalanan pagi bareng anak-anak berangkat sekolah, orang-orang kantoran, satpam shift pagi, penjual jajan pasar, bemo penuh dengan orang berangkat kerja, dan berbagai macam orang dengan tujuan masing-masing. Bersenang-senang di sekolah dari jam 7 sampai jam 4 sore, lalu kembali menemui asap mobil mewah, mobil setengah mewah, bemo, dan jutaan motor. Dan sampailah dirumah, ngantuk. Begitulah.

Tapi Jumat itu, baju sudah tersusun rapi di atas tempat tidur, siap ku masukin tas, langsung cabut ke airport. Ga perlu terlalu detail melewati hari jumat tanggal 5 April waktu itu, yang ku ingat adalah, jam 4 teng, aku kabur secepat kilat dari sekolah, secepat mungkin menginjakkan kaki di rumah ku lalu ganti tas. Hal pertama yang ku lakukan ketika sampai dirumah adalah, menelepon taksi, tentu saja! Lalu naik tangga dua-dua sekaligus, membuka pintu kamar, dan langsung copot celana panjang. Hell! Sapa yang mau pergi ke Bali pake celana kain panjang dengan model super formal, atasan ga perlu ganti deh, langsung ku matching kan dengan short ku. Dan menuju airport lah aku akhirnya dalam wajah berminyak acak adul, dan tas yang pasti isinya tornado, kecampur semua barang-barang ku.

Sore itu, sekitar jam 5 sore, di jalanan Surabaya lagi ada parade. Parade para pegawai pulang kerumah masing-masing dari tempat kerja. Hehe. Tumpah ruah semuanya. Agak kawatir ketinggalan pesawat, kagak lucu ya kalo ketinggalan pesawat, padahal udah buking tiketnya lebih dari satu bulan yang lalu. Curhatlah aku kepada bapak yang diam saja di belakang kemudi taksi, eh! Ga nyangka, bapak itu mencetuskan ide brilian di saat-saat genting. Dia membantir setir, membelok ke jalanan sepi, yang jarang ada rumah, sesaat aku kawatir di culik, hehe, tapi bapak itu, bilang ada jalan alternatip menuju airport dan di sepanjang jalan itu terbentang tambak-tambak. Hiyaaaa, bayangkan! Sore-sore ketika twilight menyambut, melewati jalanan sepi dengan pemandangan kanan kiri tambak, tampak matahari mau permisi tidur ter-refleksikan di air, baguus deh pemandangannya, tapi lhaaa kok bareng bapak supir taksi momen ini terlewati. Hehehe.

Baiklah, kembali ke jalan cerita yang benar. Jadi jadwal keberangkatan ku ke Bali sore itu adalah 6.40 pm, dan ketika jam di hape ku menunjukkan pukul 6.15, panik deh akuuuu, gimana kalo aku ketinggalan pesawaaaat, aduh aduuh. Posisi lagi di jalan tol, mobil taksi yang ku tumpangi berasa terbang saking kencengnya, tiba tiba hati ini agak lega melihat tower-tower kelap-kelip bandara. Sampai pada dimana kebanyakan taksi menurunkan penumpangnya, bayar, langsung ambil langkah seribu menuju gerbang check in. Ga lihat jam lagi, takut menerima kenyataan, ku hampiri loket maskapai penerbangan yang ku pilih, bayar 40 ribon, dimintain KTP, cek cek, lalu mbak itu mengatakan hal yang bikin hati ku mau lompat dari dalam rongga dada. Dia bilang, “pesawatnya sudah boarding 10 menit lalu, harap langsung ke gate 20 ya mbak.” Gilaaa, gate 20, jauuuuh nyaaaaa.

Berasa tiba-tiba jadi atlit lari marathon, kostum ku saat itu, kemeja tranparant hitam+ tang top hitam dalem nya of course, celana pendek hitam, dan sepatu flat merah, (aku pikir sih, look so damn good) harus ku lupakan sejenak, dan berlari sekuat tenaga menuju gate 20. Apalagi telingaku jadi super sensitif dengan pengumuman di sepanjang koridor yang berbunyi, “panggilan terakhir kepada penumpang pesawat … dengan tujuan Denpasar-Bali ……” oh no!

Sampai di gate 20, sepi! Tinggal aku doang terengah-engah melewati pengecekan tas yang terakhir, dan disapa sama bapak-bapak berseragam biru, “habis lari ya mbak?”. Busyet jauh amat gate 20. Setelah tiket ku di sobek, berjalan lah aku dengan versi cepat (abis ga ada siapa-siapa lagi di belakang ku), menuju angkutan udara yang akan membawaku melayang-layang di langit gelap Surabaya, menuju Bali dalam 50 menit. Begitu menempatkan pantat ku di tempat duduk berlapiskan warna biru didalam pesawat, terdengar pintu langsung ditutup, dan sibuklah para mbak-mbak cantik karena make up tebal nya mengingatkan untuk memasang sabuk pengaman.
….
(bersambung yaa..)

1 Comment »