Warna Langit

Juni Safitri

Origins

Imperfect Happiness

When I was four, after my brother Josh’s death but before my sister was born, I had a dream that a giant dog was running around our San Diego house. I could see the dog’s fur outside the window as it raced by, and I could feel the ground shake with each of its steps. I knew it was up to me to warn people, to protect my family, but I couldn’t reach to close the windows and no one would listen to me. When I woke up, I told my mom about the dream. “I felt so old, Mommy,” I said. “I felt like I was five!”

After Josh died, my dad came home from cruise early. A black car with white military lettering on the door dropped him off in front of our house. I ran across the grass and jumped into his arms, pressed my…

View original post 929 more words

Advertisements
Leave a comment »

Tempat, Waktu, dan Suasana

Bagi ku menikmati kesendirian itu adalah surga. Tempat, waktu, dan suasana yang tercipta didalam otak ketika menikmati kesendirian adalah kuasa total yang bisa kita ciptakan dikala kesendirian benar-benar bisa ku renggut kenikmatannya.Library with a book ladder and lampPosting kali ini bukan berisi tentang cerita pendek yang ku karang, ku rangkai kata-katanya, ku buat seperti yang ku suka, ku lukiskan seperti yang ku inginkan, ku akhiri dengan dramatis, atau ku tinggal begitu saja, terpotong ditengah kata, berhenti.

Lama, ku biarkan blog ini tak terisi oleh tarian jari-jariku diatas keyboard, yang nanti pada akhirnya juga menjadi bacaan ku sendiri ketika aku ingin membuka kembali tulisan-tulisan lama ku.  Posting kali ini ingin sekali ku buat agak serius, agak berat, agak berisi yang dalem, berharap meniggalkan kesan tulisan seorang dewasa. Tulisan seseorang yang kini diakui sebagai manusia dewasa dari dalam.

Kurang dari 24 jam lalu menurut perhitungan kasar ku, kudapatkan keheningan yang ku pikir adalah klimaks kesendirian ku selama ini. Begitu senyap, hingga aku bisa mengikuti irama dinamis detak jantungku sendiri, hembusan pelan nafas ku, menyadari kedipan mata ku yang pelan menutup lalu membuka kembali, mendengar dengan jelas udara yang terserap melalui hidung ku dan kembali keluar melalui lubang yang sama. Begitu senyap, hingga aku pikir aku berada di ruang dimensi lain, bukan dunia ku yang seperti biasa. Bukan dunia yang ku hantui selama ini, dimana aku selalu merasa ada yang kurang ketika melihat kucing berjalan dengan jalang dijalanan, ketika aku merasakan gatalnya gigitan nyamuk, ketika aku terpaksa membuat usaha interaksi kasat mata dengan manusia lain.

Keheningan itu kini kuragukan kenyataan nya, apa aku sedang bermimpi atau sedang sadar. Namun sepertinya jika boleh memilih, aku ingin berdiam diri disitu saja, sendiri.

Orang yang paham bagaimana rasanya keheningan yang ku rasa telah ku cicip nikmatnya seperti yang ku ceritakan sedikit diatas, akan mengerti bagaimana tidak nyaman nya berada di sebuah tempat dimana manusia-manusia nya saling berebut oksigen untuk bertahan hidup, berebut sinar matahari untuk memaknai hidup mereka, berebut moment kesendirian yang ku percaya sangat diidamkan.

Lalu, apa makna nya jika aku menginginkan hidup didalam keheningan ku saja? apa aku akan menjadi sendiri saja? atau ada manusia lain yang memilih sendiri juga yang berada di dalam keheningan yang sama lalu kami menikmati keheningan bersama-sama sendiri-sendiri?

atau aku tidak pernah lagi bisa kembali mencicipi keheningan yang sama?

Aku, sebagaimana yang telah dicitrakan oleh seseorang adalah manusia yang kurang matang. kurang bisa menghargai usaha orang untuk berusaha menyatu dalam keheningan dunia ku. Aku juga, masih menurut pencitraan seseorang yang mengklaim dirinya telah merasa punya keinginan menyatukan dunia kami berdua, adalah manusia yang tidak mudah dimengerti.

Tempat ku adalah diujung ruangan dengan penerangan secukupnya, melihat dengan mata membelalak bagaimana tempat orang lain. Tempat nya adalah di tengah ruangan dengan penerangan terang ingin menjadi pusat perhatian.

Waktu ku adalah dini hari ketika matahari bersiap-siap menjalan kan tugasnya menerangi dunia. Waktu nya adalah sore hari ketika matahari memutuskan beralih tempat menerangi dunia yang lain.

Suasana ku adalah hening, yang ketika hanya ada aku saja, aku tidak perlu perhatian lain selain keheningan itu sendiri. Suasana nya adalah bingar, ketika gendang telinga nya bereaksi menangkap suara-suara yang menarik perhatian suasana orang lain.

aku tidak mengerti orang seperti itu.

aku ingin bersama dengan orang yang mempunyai tempat, waktu, dan suasana yang senada.

 

ketika kurang dari 24 jam yang lalu unintended feelings menyerang’

 

(tempat biasa – sendirian saja)

Leave a comment »

I can’t make you unpack your suitcase.

98a30a20a92ade844002f4d464785207

When I unzipped the belly of the little red suitcase the book was sitting there.

It was sitting right on top. It was waiting for me. Two years ago, I used to think that if ever I sat down and finally read that book, it would probably be my favorite book. Maybe one day. Instead, I grabbed a sweater and I closed the suitcase shut. I checked the bag. I would see it in New Orleans. There’s never enough room for your second carry-on bag when they lump you into Zone 3.

Half of my life plays out in airports. The people who spend too much time in airports know I’m not saying that to sound romantic. It can be a tad whimsical. On quiet mornings. And when you aren’t getting a connecting flight in Atlanta. And when you get to fly into cute, little airports with baggage claim…

View original post 1,242 more words

Leave a comment »

Paramount Theatre – Marshall, TX

Nice!

After the Final Curtain

View of the auditorium from the main level. View of the auditorium from the main level.

Delayed and over budget, the Paramount Theatre in Marshall, Texas opened on March 31, 1930. The opening was the first event in what the city of Marshall dubbed “Program of Progress” month. The East Texas Theatre Company, Inc. commissioned Emil Weil, Inc., an architecture firm based in New Orleans, to design the 1,500 seat atmospheric theater.

The auditorium is currently used for storage. The auditorium is currently used for storage.

On opening day the front windows were decorated with telegrams from prominent movies stars congratulating the theater on the opening. The first feature was “Young Eagles,” starring Buddy Rogers and Jean Arthur, and “Brats,” a Laurel and Hardy comedy short. Live acts, including Rajah Vogi, an East Indian hypnotist, played at the theater during its early years.

Sunlight pours in through holes in the ceiling, due to years of water damage. Sunlight pours in through holes in the ceiling due to years of water damage.

View original post 423 more words

Leave a comment »

africa, where the colors don’t fade

Awesome!

In A Search of Balance

You know how they say you leave your heart in Africa? How this wildly contrasting place gets to you and you keep revisiting your steps, toying with the idea of going back? How you find yourself looking around your home afterwards and wondering how people take so many things for granted, forgetting to enjoy the little things that make their day? Well, they were right.

It’s very hard to put in words what this place does to you (and I’m not the best of writers anyway), but you can’t just ease back effortlessly into your old life and habits. It changes you a bit, as cliche as it may sound, especially if you give into the experience and life instead of gliding on the surface. It’s enough to see the genuine smiles on the little kids’ faces who are eager to talk to you or the richness of colors and…

View original post 654 more words

Leave a comment »

Kembaran nya Alien!


Lama kagak ngetik-ngetik, lalu posting-posting di blog ini. Hehe…
Entah apa yang terjadi, tapi akhir-akhir ini my life berasa garing-ring. Kayak krupuk super renyah yang begitu beradu dengan gigi langsung patah. Hiyah! Kagak nyambung kayaknya. Bai de wai, jika mengingat kembali kejadian akhir-akhir ini, kilas balik nya ya ga jauh-jauh sih sodara-sodara, Kira-kira 2 bulan – 3 bulan yang lalu lah. Kontrak kerja ku di sebuah kursus matematika dan Bahasa Inggris berakhir, dan aku tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan hidup ku di situ, yang menandakan aku harus bergumul lagi dengan berbagai jadwal interview, dan menghabiskan waktu di jalanan, observasi dan nyari alamat. lalu teman kerja ku meninggal dunia, dan sebelum dia meninggalkan kami semua yang masih bernafas ini, hmm gimana ya rada panas gitu lah situasi kondisinya dengan diriku ini, dan diriku ini tidak sempat minta maaf secara tatap muka alias face to face dengan dia, dia keburu kembali ke tangan Tuhan. Menyesal. Dan satu lagi yang krusial, bukan 4 huruf akhirnya doang lho, tapi pake prefix kru, hehe. Aku akan mencapai seperempat abad di tahun 2013 ini. Damn! Berasa tua deh. Pengen rasa nya stay di usia tertentu gitu, 23 tahun terus misalnya, bahagia tiada tara pastinya hati ini, tapi yah namanya juga manusia, perjalanan nya kan dilahirkan kedunia, menggoreskan cerita, lalu meninggalkan nama. Begitulah.

Tiga hal itu somehow, lately bikin hidup ku di negara dengan langit-langit yang rendah ini berasa kosong melompong. Jujur saja, yah maaf ya bagi yang kecintaan nya akan negara ini sangat mendalam melebihi dalamnya lautan, rasa nya daku ini tidak punya keinginan secuilpun untuk survive di negara ini. Negara dimana disebuah kantor pajak di Jakarta pusat, ibu kota yang lebih kejam dari pada ibu tiri itu, terdapat sebuah meja ping-pong tepat di sebelah ruang kerja. (ini bocoran dari orang yang melihat sendiri isi kantornya, dan orang nya sudah terbang kembali ke Jepang saat ini, malu nya dengar itu dari orang yang ngambil jurusan macro-economi di universitas ternama di negara Sakura). Lho-lho kalo di baca ulang kayaknya kalimat yang barusan itu ga singkron. Yah keep typing lah jun! Kata suara di dalam kepalaku ini. Marilah kita singkap, kenapa aku kembali beredar di blog ku setelah beberapa saat vacum. Dan mendapatkan kembali secara mendadak, inspirasi! Yeahhh! Let’s write beibehh!

Jumat, tanggal 5 April lalu. Males rasanya bangun dari tempat tidur ku yang nyaman dengan kasur sepon yang empuk. Pengen molor sampe siang. Tapi sayang nya, sekarang ini aku terpaksa bangun jam 5 dini hari everyday, menjemput rejeki. Kantor baru ku ini letaknya bertolak belakang dari tempat tinggal ku yang sekarang. Aku berdiam diri di Surabaya bagian timur, sedangkan tempat ku mengais rejeki di Surabaya bagian barat. Sebuah sekolah yang konon memakai kurikulum USA, yang menggunakan bahasa pengantar full English, yang anak-anaknya hidup di negara yang sama, namun dalam budaya yang berbeda (well, marilah kita bahas tentang itu, di bagian tulisan yang berbeda, a.k.a next time ajah bahas tentang budaya orang-orang borjuis itu). Jadi, sampai dimana tadi? Hehe oh iya, jumat yang malas. Aku memulai hari ku dengan pikiran melayang. Bagaimana tidak, yah hari Jumat yang ku tunggu-tunggu sejak bulan Desember 2012. Ketika my brother, baru saja kembali dari Jepang. Setelah menyelesaikan studinya di sebuah fakultas ekonomi ternama di Jepang. Membawakan ku sebuah kabar yang sebenarnya ga ada hubungannya sama aku sih, kita ngobrol santai aja waktu itu, ketika dia dengan ringan menyebutkan kalo teman kuliah nya di Jepang akan mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat. Antara interested and kagak interested, ya ku dengerin ajah lah cerita kakak ku ini. Hingga pada akhirnya, dia mengungkapkan udang di balik batu nya atas pembeberan cerita seorang teman yang akan mengunjungi Indo itu. Begini kira-kira kata-kata nya waktu itu, “ade, kamu punya teman di Bali yang bisa ku kenalin sama temannya mas ga?” ealahh, teryata disuruh nyariin cewe tho intinya.

Sebagai sodara yang baik dong, aku sih responnya ya kira-kira kayak gini waktu itu, “banyak sih mas, teman-teman ku dulu jaman kuliah masih ada beberapa yang tinggal di Bali. Cuman ga kontak lagi.” Dan seperti yang aku duga, setelah mendengar inti sebenarnya pembicaraan ini, dia follow up jawaban asal-asalan ku dengan sebuah permintaan nyariin cewe buat teman nya itu. Perlu diketahui sih sodara-sodara, (hehe berasa pidato) kalo teman yang mas ku bicarakan ini, bukan orang Jepang asli kok, (padahal awalnya aku juga kira ni orang uasli buatan Jepang, ternyata bukan, itu juga ada kaitannya dengan pilihan yang ku buat selanjutnya. Hihi) jadi, orang ini berasal dari antah-berantah, sebuah tempat yang jauh nun disana, di bagian bumi yang lain, Amerika Selatan. Tepatnya Paraguay. Ketika aku akhirnya tau kalo orang yang dibicarakan ini bukan orang Jepang, aku masih belum tertarik sih. Biasa ajah lah. Aku juga ga berusaha kontak teman-teman ku yang masih bertengger di Bali, intinya ga niat juga nyariin si teman kuliah nya mas ku ini cewe yang akan nemenin dia selama di Bali.

Hingga suatu ketika, aku dan kakak ku sedang ngobrol via fesbuk, dia meyebutkan sebuah nama (yang di maksudkan itu ya tetap temannya itu yang akan berkunjung ke Indo). Iseng, aku copy lah nama itu dan ku search, dan muncullah sebuah foto lalu sedikit keterangan disana, hm tempat yang sama dimana kakak ku belajar, Universitas bla bla, Jepang, hehe. Ku klik lah foto orang itu, dan rasa nya kalo diingat-ingat lagi, ketika pertama aku lihat foto orang itu, aku langsung mangap! (ngerutin kening, mikir. Mengingat-ingat) you know what, wajah nya itu, unbelieveable!! Mirip pol sama Lhuay(tetep ya nama itu berkali-kali munculdi tulisan ku-tapi ga di blog ini). Mungkin mataku rada berair waktu lihat foto nya pertama kali, bagaimana mungkin ada orang yang mirip kayak gitu yang tinggal di belahan bumi yang lain, and tentu nya wajah nya itu Lhuay banget!.

Tanpa nunggu dua detik, saat itu juga ku add lah dia plus ku kirim lah sebuah pesan sok akrab sok kenal, mengenalkan diri sebagai sister nya mas ku itu. Again, iseng lagi ku tawarilah dia untuk berkunjung ke Surabaya, sapa tau aku bisa ambil poto orang ini secara langsung, oh God! Wajah Lhuay nya! Sebut saja aku memang sudah gila, menggilai satu orang saja sejak aku menginjakkan kaki ku di kelas 1 SD, sampai detik ini. Tapi whatever lah, aku juga ga tau bagaimana aku bisa hidup dengan memori full Lhuay di otakku ini. Permanent memori kayaknya. Ternyata oh ternyata, orang nya menerima usul ku dengan baik dan mungkin akan datang ke Surabaya. Let’s see lahh.

Awal tahun 2013, orang ini kirim pesan. Menganjurkan kalo aku lebih baik ke Bali ajah sama dia. And yang ada didalam pikiran ku waktu itu, whaat!! Sapa lu ngajak-ngajak ke Bali. Tentu saja semua yang dia anjurkan ku laporkan kepada sang kakak ku, yang statusnya adalah teman semasa di Jepang. Menurut informasi kakak ku ini sih, Si A ini orangnya baik (sebut saja si A lah), cuman agak bandel. Hiyahh, perpaduan yang sempurna, Lhuay banget, baik tapi bandel, again yang ada di otakku adalah Lhuay. (all the time)

Long story short, awal februari, di tangan ku sudah ada tiket pesawat pulang pergi, Surabaya-Bali. Berangkat Jumat sore, abiz cap cuss dari kantor, dan terbang kembali ke Surabaya minggu pagi. Aku sejujunya agak-agak lupa alasan kedua ku akhirnya memutuskan terbang ke Bali demi stranger berwajah Lhuay ini, tapi berhubung tiket pesawat udah di tangan. Ya sudah lah, tunggu saja tanggalnya datang.

Yup, Maret berlalu dalam sekejap mata. Tiba-tiba langsung bulan April aja. Daily rutin ku sejak bermarkas di Surabaya barat adalah, bangun jam 5, bikin cereal, mandi, makan cereal (masih pake handuk doang), pake baju, make up ringan on, meluncur di jalanan pagi bareng anak-anak berangkat sekolah, orang-orang kantoran, satpam shift pagi, penjual jajan pasar, bemo penuh dengan orang berangkat kerja, dan berbagai macam orang dengan tujuan masing-masing. Bersenang-senang di sekolah dari jam 7 sampai jam 4 sore, lalu kembali menemui asap mobil mewah, mobil setengah mewah, bemo, dan jutaan motor. Dan sampailah dirumah, ngantuk. Begitulah.

Tapi Jumat itu, baju sudah tersusun rapi di atas tempat tidur, siap ku masukin tas, langsung cabut ke airport. Ga perlu terlalu detail melewati hari jumat tanggal 5 April waktu itu, yang ku ingat adalah, jam 4 teng, aku kabur secepat kilat dari sekolah, secepat mungkin menginjakkan kaki di rumah ku lalu ganti tas. Hal pertama yang ku lakukan ketika sampai dirumah adalah, menelepon taksi, tentu saja! Lalu naik tangga dua-dua sekaligus, membuka pintu kamar, dan langsung copot celana panjang. Hell! Sapa yang mau pergi ke Bali pake celana kain panjang dengan model super formal, atasan ga perlu ganti deh, langsung ku matching kan dengan short ku. Dan menuju airport lah aku akhirnya dalam wajah berminyak acak adul, dan tas yang pasti isinya tornado, kecampur semua barang-barang ku.

Sore itu, sekitar jam 5 sore, di jalanan Surabaya lagi ada parade. Parade para pegawai pulang kerumah masing-masing dari tempat kerja. Hehe. Tumpah ruah semuanya. Agak kawatir ketinggalan pesawat, kagak lucu ya kalo ketinggalan pesawat, padahal udah buking tiketnya lebih dari satu bulan yang lalu. Curhatlah aku kepada bapak yang diam saja di belakang kemudi taksi, eh! Ga nyangka, bapak itu mencetuskan ide brilian di saat-saat genting. Dia membantir setir, membelok ke jalanan sepi, yang jarang ada rumah, sesaat aku kawatir di culik, hehe, tapi bapak itu, bilang ada jalan alternatip menuju airport dan di sepanjang jalan itu terbentang tambak-tambak. Hiyaaaa, bayangkan! Sore-sore ketika twilight menyambut, melewati jalanan sepi dengan pemandangan kanan kiri tambak, tampak matahari mau permisi tidur ter-refleksikan di air, baguus deh pemandangannya, tapi lhaaa kok bareng bapak supir taksi momen ini terlewati. Hehehe.

Baiklah, kembali ke jalan cerita yang benar. Jadi jadwal keberangkatan ku ke Bali sore itu adalah 6.40 pm, dan ketika jam di hape ku menunjukkan pukul 6.15, panik deh akuuuu, gimana kalo aku ketinggalan pesawaaaat, aduh aduuh. Posisi lagi di jalan tol, mobil taksi yang ku tumpangi berasa terbang saking kencengnya, tiba tiba hati ini agak lega melihat tower-tower kelap-kelip bandara. Sampai pada dimana kebanyakan taksi menurunkan penumpangnya, bayar, langsung ambil langkah seribu menuju gerbang check in. Ga lihat jam lagi, takut menerima kenyataan, ku hampiri loket maskapai penerbangan yang ku pilih, bayar 40 ribon, dimintain KTP, cek cek, lalu mbak itu mengatakan hal yang bikin hati ku mau lompat dari dalam rongga dada. Dia bilang, “pesawatnya sudah boarding 10 menit lalu, harap langsung ke gate 20 ya mbak.” Gilaaa, gate 20, jauuuuh nyaaaaa.

Berasa tiba-tiba jadi atlit lari marathon, kostum ku saat itu, kemeja tranparant hitam+ tang top hitam dalem nya of course, celana pendek hitam, dan sepatu flat merah, (aku pikir sih, look so damn good) harus ku lupakan sejenak, dan berlari sekuat tenaga menuju gate 20. Apalagi telingaku jadi super sensitif dengan pengumuman di sepanjang koridor yang berbunyi, “panggilan terakhir kepada penumpang pesawat … dengan tujuan Denpasar-Bali ……” oh no!

Sampai di gate 20, sepi! Tinggal aku doang terengah-engah melewati pengecekan tas yang terakhir, dan disapa sama bapak-bapak berseragam biru, “habis lari ya mbak?”. Busyet jauh amat gate 20. Setelah tiket ku di sobek, berjalan lah aku dengan versi cepat (abis ga ada siapa-siapa lagi di belakang ku), menuju angkutan udara yang akan membawaku melayang-layang di langit gelap Surabaya, menuju Bali dalam 50 menit. Begitu menempatkan pantat ku di tempat duduk berlapiskan warna biru didalam pesawat, terdengar pintu langsung ditutup, dan sibuklah para mbak-mbak cantik karena make up tebal nya mengingatkan untuk memasang sabuk pengaman.
….
(bersambung yaa..)

1 Comment »

hmm. . .

– a nine year old kid with autism –

Let’s say he is different from most kids his age. He was diagnosed with autism. He had an aid accompany him to class. Now, he is able to go to school by himself. He does not have any close friends. But, there are few people who will be nice to him. It is very hard for him to voice things, especially under pressure. He may not know how to communicate with others by speaking. He may have autism, and does not understand what is going on around him. He likes smiling, he likes dancing, he likes moving his hands, he likes singing, and he likes running around. The world seems so beautiful and peaceful to him.

I can not imagine going to school and not have anyone to talk or help me out when I need it. He does not have any peers he can rely on at school. I was thinking about what life may be like for someone who is autistic. Is it peaceful? is it beautiful? is it awesome? or is it sad? is it lonely? or even is it hurtful?

Leave a comment »

Lhuay

-a little thing called love-

Lhuay and I have known each other since we were nine and eleven years old. At eighteen and twenty, we began dating. Neither of us had dated anyone before that time.

What attracted me to him was his sense of humor. friendliness, affection, and dependability. His generosity and thoughtfulness to others were important, as were his caring and concern. He was fun to be around and I felt special and loved. We shared the same taste in music and enjoyed being together every chance we could get.

I didn’t know where we would be. Like many young couples, we didn’t know how to express ourselves. I didn’t know how to verbalize what I felt. He was the talker, and I was the thinker. I listened because I loved him. I had secretly felt there was nothing I could do to make him happy.

When you love someone, you naturally treat them in the ways you would want to be treated. This loving tendency becomes counterproductive when what we would want is the opposite of what our partners would want. In loving relationships, quite automatically we give our partners what we would want but not necessarily what they want and need. I thought he would be everything to me.

but something unexplainable, unbelievable, and inevitable happened to us.

He had to move to other city to pursue his career. He even bought a brand new motorbike that he had always wanted. I think in many relationships people just go along with the flow. I was sad about not being together anymore. It was very difficult to face the idea of not being together since we really did love each other, well he said many times that he loved me. But not me..

I was in love.

But I never said a word that I loved him.

Having the feeling but couldn’t verbalize it, was and still is my big problem. But he could understand me well, knowing he cares inspires such comfort in me. We were still seeing each other. Romance was still important to us, he was very romantic by nature. He called just to say hi, even when things have got pretty busy. Little things: reminders to me of how much he cares. It’s so wonderful to show me at such a young age these ways of interactions.

But on October 4, 2010, I received a phone call from anonymous woman. She said that my boyfriend had an accident. When I took my first step in the hospital, I was going to tell him how much I loved him, but I was too late. He has gone.

I wish I had a chance to tell him what I felt.

Leave a comment »

24 years

24 years of growing and changing. . .

She knows things… she just does. And it’s so comforting to know that even when I’m so confused and turned upside down… she usually has it all figured out.

I will borrow a description that I heard a friend use once. She is my lid. When my emotions bubble up and spill out, she is there to make sure there’s no mess. To assure me and tidy me up.

. . .

– This is for my mum –

Leave a comment »

Satu Setengah Jam

#Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing… Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing….. Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

Ahh!! Sial! Sudah jam 4,.. kenapa waktu berjalan cepat sekali.

Aku memaksakan diriku untuk membuka mata, kemudian melawan gravitasi untuk duduk dan memutuskan untuk berdiri. Aku meraba-raba dinding, mencoba menemukan pencetan lampu kamarku. Aku ingin menghadirkan cahaya secepatnya didalam kamar yang gelap ini. Kegelapan membuat otakku ingin beristirahat, namun pagi ini aku harus bersiap sebelum jam 5 pagi.

Lampu sudah menyala, baiklaahh! Semangatt!! Aku berkata pada diriku sendiri setiap hari untuk tetap bersemangat. Ya, tentu saja, kalau bukan diriku sendiri yang menyemangati aku, lalu siapa lagi. Aku meraih gelas yang memandangiku dari balik tumpukan buku yang ku biarkan diatas meja tanpa aturan artistik, berantakan!. Seteguk dua teguk air yang mengalir melalui tenggorokanku sedikit memperkuat sugesti yang ku buat untuk diriku sendiri agar tersadar dari alam mimpi yang baru saja ku jalani. Seperti nya aku tadi bermimpi, tapi entahlah mimpi apa, aku tak berniat mengingat-ingat mimpiku. Ku aduk-aduk tas serbagunaku, mencari karet rambut. Ku gelung rambutku sampai ke atas. Ku hampiri sandal kamarku yang sejak tadi menunggu untuk ku injak-injak, membuka pintu, dan pergi menuju kamar mandi.

Jam 5 pagi teng ya Jeng Jun. Ku baca pesan singkat dari teman ku, Anita, setelah kembali ke kamar untuk menyiapkan barang-barang apa saja yang akan ku bawa. Surabaya pada jam 4 pagi masih mendengkur, entah dari mulut siapa ide gila untuk meninggalkan kota yang masih mendengkur itu muncul, tapi ketika ku lirik angka-angka pada pojok kanan atas layar ponsel ku yang sekarang menunjukkan jam 4.15, mendadak mau ga mau aku harus mempercepat proses penyiapan barangku.

Hm apa lagi ya? Laptop, charger laptop, modem, hape, dompet, map ijazah, sabun wajah, sudah semua kayaknya ahh. Ku tenteng tas serba gunaku. Ku bawa menuruni tangga, pelan-pelan, aku ga mau membangunkan semua orang, ku ambil kunci gerbang yang menggantung pada sebuah paku diatas mesin cuci di bawah tangga. Ku buka gembok gerbang rumahku yang super berat dan besar sekuat tenaga, mendorong besinya untuk bergeser dan memberikan ruang agar kendaraan ku bisa keluar. Menyalakan mesin mobil, lalu mengembalikan kunci gerbang ke tempat semula. Dan menunggu didalam mobil hingga mesin sudah cukup panas untuk dijalankan.

Aku mendengus beberapa kali sebelum berhasil mengeluarkan mobil ku dari jebakan halaman rumah yang tak begitu lebar dengan beberapa mobil didalam nya. Untunglah Kijang hijau tua hari ini tidur di pojok, jadi dia tak semena-mena memakan tempat parkir untuk mobil yang lainnya. Setelah berhasil membebaskan diri dari cengkraman tempat parkir yang sumpek, aku harus sekali lagi menyentuh dinginnya besi pintu gerbang ku, menutup, lalu mengaitkan kembali gemboknya.

Kulihat sekilas jam digital kecil pada dasbor mobilku, ahh! Jam 4.55. Tampak di kejauhan seorang gadis manis sedang berdiri dengan tas ransel dipunggungnya dan pandangan sibuk ke layar ponsel. Ku turunkan kaca mobil ku dan menyapanya, “Heeeeey, bbm an mulu! Ayo masuk.”

“hi hi hi..” kikiknya singkat memamerkan deretan gigi-gigi putih dan rapi.

“Tepat waktu juga..” lanjutnya sambil memindahkan tas ransel di jok belakang begitu dia mendaratkan pantatnya dia atas jok disampingku, dan menutup kembali pintu mobil.

... namun apalah artinya, cinta pada bayangan.
Biar aku yang pergi, bila tak juga pasti.
Adakah selama ini, aku cinta sendiri.
Biar aku menepi, bukan lelah menanti.
Namun apalah artinya… cinta pada bayangan..

“Pedih aku rasakan, kenyataan nya cinta tak harus selalu milikiiiiiiii…” Aku memulai perjalananku pagi ini dengan Anita sambil mendendangkan lagu dari grup band asal Bandung favoritku, Kahitna. Tanpa sedikitpun rasa malu aku bernyanyi mengiringi suara yang muncul dari CD player ku.

“Dasar aneh! Pagi-pagi buta begini malah muter lagu super melow.” Kritiknya, sambil menoleh ke arah ku. “sumpah suara mu memang cempreng Jun! Ha ha..” belum puas rupanya dia. “and .. kamu pake sandal jepit kamar mandi ya, sumpah lagi, dandanan kamu pagi ini ancur, celana pendek, kaos oblong, sandal jepit, rambut ga karuan. Ha ha ha..”

Puas sekali sepertinya hidupnya, aku biarkan saja dia mengatakan apapun tentang penampilanku pagi ini. Ya aku memang belum mandi, untuk apa mandi pagi-pagi buta begini. Aku juga belum ganti baju, hanya kaos oblong dan celana pendek yang membalutku ketika tidur dan sekarang ini masih ku kenakan, “Eh, tapi aku sudah bersiin ketek di mata yang indah ini tau, he he he.” Jawabku sekenanya sambil mengerjap kan mataku beberapa kali padanya.

“cewe ga jelas… ha ha.” Timpalnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Cerewet, seat belt please.” Balasku mengingatkannya untuk mengencangkan sabuk pengaman.

… di ujung jalan itu. Setahun kemarin.
Ku menunggu mu, bidadari belahan jiwaku…

Lagu-lagu kahitna tetap mengalun manis didalam mobil tanpa berdosa akan menemani perjalanan kami berdua selama satu setengah jam menuju kota kecil bernama Bangil.

. . .

“Kita lewat mana? Jemursari? Apa ngagel?” kata ku meminta pendapat ketika kami hampir mencapai sebuah perempatan jalan didekat taman flora.

“Jemursari aja lebih cepet.” Kata Anita cepat.

“oke dehh.” Mata ku tetap melekat dijalanan meskipun memang masih lengang dan sepi, tanpa menoleh pada nya aku tetap berceloteh, “kalo siang ogah banget lewat sini, macet ciinn.” Ahh! Mantan terindah. Rupaya yang sedang mengalun sekarang lagu berjudul mantan terindah, refleks aku ikut menyanyikan liriknya. “Mengaaapaaaa engkaaauuu waktu ituu putussskaaan cintaaaakuuuu.. daaaan saaaaat ini, engkau selaluuuu ingin bertemu, dan mengulaaaang jaaaaaliiiiiiiin cintaaaaaa”

Dan Anita pun ternyata ikut menyumbangkan suaranya, “Mauuuu dii kaaaaataaaaaakan apalaaaagiiiii, kitaa tak akaaaaaan pernah satuuuuuuuuu. Engkauuuu disaaanaaa aku disiniiii…. meski hatikuuuu memilihmuuuuuuuuuuu…”

“ Ha ha ha…” kami berdua tertawa-tawa setelah menyanyikan sebait lagu melow itu.

“Ga ada lagu lain ya?” Tanya anita sambil memeriksa tempat ku menyimpan harta karun dibawah dasbor mobil, dia membukanya dan memekik pelan. “Busyet! Berantakan amat! Isinya Cuma sunglasses dan barang-barang kurang bernilai. Ha ha..”

“ha ha, ga sopan. Ini kan rumah berjalan ku. Ya isinya memang keperluan sehari-hari lha.” Jawabku sambil tetap menatap aspal jalanan. “pokoknya hari ini adalah hari saking terkenal nya.” Lanjutku sambil mengikik.

“apa’an? Hari saking terkenalnya?” tanya Anita heran.

“iya, kalo di bahasa Bandung kan jadinya Ka-Hit-na. Hua ha ha..” aku tertawa dengan kata-kata ku sendiri. Entah apa yang lucu, tapi menurutku memang apa yang baru aku sampaikan itu lucu.

“ha ha ha.. dasar gadis nopek gila.”

Tak kusangka Anita juga tertawa dengan kata-kata ku, tapi tunggu dulu.. “Hey? Gadis nopek udah ga jaman..” Aku protes, kenapa julukan ku masih sama sejak insiden Oom-Oom dari Aussie muncul dalam hidupku.

“terus? Gadis apa’an? Gadis ce tiau gitu? Ha ha ha.” Tanya Anita sok serius dengan nada berat dan dalam.

“hah Ce tiau tu berapa? Sejuta yah? Ha ha ha… ya boleh lha..” Timpalku usil. Kami baru saja melewati sebuah restoran Thailand bernama Sawadee, restoran yang penuh dengan nyamuk, dan musik yang kurang berkualitas. Aku pernah mengunjungi restoran itu dengan teman ku, Julian, dan kami memutuskan tidak akan pernah kembali ke restoran itu apapun yang terjadi.

“Seneng banget kayaknya disebut gadis ce tiau?” Tanya Anita padaku atas reaksi ku dengan sebutan yang baru saja muncul, gadis ce tiau.

“Kedengeran lebih keren aja dari pada nopek, ya ga?” kataku sambil berpikir-pikir, apa memang iya lebih keren. “gimana kalo sebutan ku balik ke asal ajah, gadis cantik? He he”

“Sejak kapan kamu dapat sebutan gadis cantik? Gadis aneh bin gila iya. Ha ha ha.” Tak ayal dia tertawa-tawa setelah mengucapkan kata-kata aneh dan gila. Tak tau kenapa, memang dia benar. Terkadang jika aku sedang tak ingin bersikap normal, aku mengacak-acak rambutku sendiri seperti orang yang sedang keramas, dan kelakuan ku itu mengundang pro dan kontra dikalangan asisten di kantor.

“Aku kangen banget sama Satiti persik.” Balas ku tiba-tiba sambil menerawang dan berkonsentrasi sekaligus.

“Tuh kan ga nyambung.” Lagi-lagi Anita hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata yang baru saja ku produksi. “Kita lagi ngomongin elu, nyambungnya ke Satiti persik.”

… dan lagu-lagu Kahitna tetap mengalun setia.
Oh eeeyaaa… oh eeeyaaa…
Indah rambutmu mengurai kata cinta.
Tiada indah dunia,tanpa kehadiran mu oh
Deru hatiku menembus batas rindu.
Jelas artinya surga, teduh aku dekatmu.

“ha ha.. bodo amat. Tapi kantor sepi kalo ga ada dia. Ga ada lagi yang akan tiba-tiba menyanyi di segala suasana. Persis seperti dewi persik yang lagi diwawancara.” Celetuk ku spontan.

“iya kamu bener, gadis nopek.” Jawab Anita sambil tiba-tiba menerawang menembus jendela mobil.

“Heeeey, koq balik lagi jadi gadis nopek seeeeh?” Jeritku tak terima.

Anita membetulkan posisi duduknya, kemudian dengan tenang berkata “Kamu lebih cocok dipanggil gadis nopek aja, Jun.” Kemudian dia meledak dengan tawa kerasnya.. “HA HA HA”

“Sialan!” aku bersungut-sungut dibelakang kemudi , meskipun begitu senang sekali kepulanganku kali ini Anita bisa menemani. Biasanya aku sendirian saja, menyetir sambil sesekali melamun, menyanyi-nyanyi sendiri, tak bisa melakukan percakapan seperti yang kami lakukan sekarang. Meskipun omongan kami tak tentu arah, bahkan kebanyakan percakapan antara aku dan teman-teman kantorku memang tak pernah tentu arah. Namun tertawa bersama-sama adalah hal yang paling menakjubkan di dalam kehidupan manusia.

Sampai nanti, tak berbatas ingin ku, harap ini takdirku.
Tuk selalu dengan mu.
Sampai nanti, jiwa ini untuk mu.
Bukan hanya sumpah ku, tuk selalu denganmu.
Oh dewi ku…
Keluguan mu hapuskan beban dunia.
Ini arti suci ku, tegas inginkan kamu.

“Jadi oyeks seperti apa yang anda inginkan?” kata ku sok serius setelah beberapa menit kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ha ha.” Anita memulai menjawab pertanyaan ku dengan tawa. “Yang ganteng, idung mancung..”

“..dan super brewokan juga.” Lanjutku

“Hua ha ha ha…” keras sekali suara tawanya kali ini, bahkan mungkin terdengar dari luar mobil. “gile, ya enggak lha.” Katanya sambil mengusap ujung matanya yang berair.

“Jangan salah jeng, oyeks dengan super brewokan itu populer dikota saya.”Sahutku dengan kata-kata panggilan dan sebutan diri sendiri secara formal.

“ha ha, engga deh makasih.” Lanjut Anita sambil tetap tertawa-tawa.“Pokoknya yang idung nya mancung ajah dehh. Hi hi.”

“Ohh, dasar oyeks hunter.” Balas ku bercanda.

“ye, eke oyeks hunter. Ente bule hunter. Ha ha ha.” Dia tertawa lagi, lalu melanjutkan kalimatnya, yang ternyata belum selesai. “sama-sama idung mancung hunter ye bo’.”

“ha ha.. bukan salah bunda mengandung cinn. Ehh, apa hubungannya ya,ha ha.” Aku sedang berpikir kenapa kalimat itu yang muncul dari mulut ku. Memang tak salah aku di sebut aneh. “sebenarnya aku lesbi, itu semua cuma sebagai kedok aja biar ga ketauan ha ha ha.kidding. Eh tapi by the way dan ngomong-ngomong, denger-denger oyeks yang super brewokan itu kuat lhooo.”

Anita kali ini tertawa sambil memegangi perut nya. “HUA HA HA HA..” tak mampu membalas kalimatku rupanya. Lalu aku memutuskan menambahkan sesuatu yang terbersit didalam otakku.

“Aha! Ketauan. Ternyata kamu mencari yang kuat-kuat ya.” Aku manggut-manggut tanpa menoleh padanya, memegang dan mengelus-elus daguku sendiri dengan tangan kiriku, sedang tangan kanan ku masih memegang kemudi. “hm.. mungkin oyeks dengan super brewokan juga terkenal tahan lama, hi hi.” Puas sekali aku menggodanya.

“HA HA HA..” Anita benar-benar tak sanggup membalas kalimatku yang terakhir. Dia melanjutkan tertawa beberapa detik selanjutnya, kemudian berkata, “Aduh!perut ku sakit.”

Sekarang gantian aku yang tertawa. “ha ha, kasian.”

Suara Hedi Yunus dan kawan-kawan masih memenuhi suasana didalam mobil kecilku. Kali ini yang sedang berputar adalah lagu berjudul aku, dirimu, dirinya.

Aku, dirimu, dirinya.
Tak akan pernah mengerti tentang suratan.
Aku, dirimu, dirinya.
Tak resah bila sadari,Cinta takkan salah.
Andai waktu bisa kita putar kembali.
Jalinan cerita mungkin, tak begini.

Kami melaju menyusuri jalanan pagi di hari minggu yang indah. Sepanjang jalan kami menemui banyak orang yang mengendarai sepeda, berolah raga dihari libur. Sekitar setengah jam lagi kami akan tiba di kota kecilku yang bersih dan indah. Namun sepertinya Anita yang sedang duduk di sebelahku ini gusar. Aku penasaran sekali kenapa dia seperti itu, apakah dia gugup karena akan memasuki sarang oyeks, atau dia terlalu senang, atau malah dia menyesal ikut pulang denganku. Jadi aku memutuskan untuk bertanya saja,daripada hanya membantin. “kenapa? Kaya’ga tenang gitu duduknya?”

“Sakit perut.” Jawabnya singkat.

“ha ha, masak gara-gara kata-kata ku tentang oyeks yang super brewokan tadi sakit perut nya belom ilang habis ketawa-ketiwi?” celetukku asal saja.

“umm,berapa lama lagi kita sampai?” tanyanya, singkat.

“Tumben nadanya serius gitu?” aku jadi tambah penasaran saja. “kenapa sih?”

“Sakit perut,aduuh. Udah dibilang kan barusan.”

“Ahhh, ya ampun. Sory jeng Lola gue. Ha ha ha. Baiklahh, ngebuut.” Aku memutuskan menambah kecepatanku agar segera sampai dirumah. Gadis yang duduk di sebelahku ini harus segera diberi pertolongan pertama pada sakit perut.

Memasuki kota kecilku yang bersih, aman dan indah. Sepertinya dia mulai lega. Meskipun sejak mendeklarasikan diri bahwa dia sedang sakit perut, dia masih bisa tertawa-tawa kecil pada apa saja yang aku katakan. Jalan raya dimana bus-bus dan truk besar serta mobil-mobil segera berganti dengan jalanan tak begitu ramai. Rumah-rumah di sekitar jalan itu tampak berdiri tenang setenang keadaan sekitarnya,tak terlalu banyakkendaraan. Semakin lama, sebelah kiri jalan kini hanya ada sawah-sawah dan beberapa perumahan baru yang menggeliat perkembangan nya.

Aku mengurangi kecepatan laju mobilku, menyalakan lampu lighting sebelah kanan, bersiap untuk memutar kemudi kekanan. Aku memasuki sebuah pelataran rumah yang tak terlalu lebar namun bersih, dengan pintu pagar yang memang sengaja dibuka, mungkin seseorang baru saja keluar dari dalam. Rumah bergaya khas bangunan jaman Belanda, dengan pintu lebar, dan jendela-jendela besar menyambutku hangat. Aku menjejerkan mobil kecil berwarna hitam ku disamping sebuah mobil Jeep tua tahun 70 an,milik bapak ku. Mematikan mesinnya, kemudian menonaktifkan kunci otomatis yang mengunci semua pintu dari dalam.

“oke, udah nyampe’.” Kata ku kepada Anita sambil memasang wajah sumringah.

“Baiklahh, dimana WC nya?” kata nya tanpa basa-basi.

. . .

2 Comments »